puisi tentang menerima kenyataan
-
Gelas Bening Berembun
A glass sits, clarity blurred by mist,
Voices dance, harsh and soft in the air,
Like a promise unspoken, it twists,
In silence, I listen, yet unaware.The invitation rests, unsent, untouched,
Words collide, a cacophony of dreams,
Through the fog, intentions are clutched,
In quiet corners, nothing's as it seems.Each word a whisper, …
-
Pelukan di Parkiran
Di ruang tunggu yang sepi,
udara mendekap erat,
tanpa kata, kita melepaskan
pelukan terakhir di parkiran,
suara adzan magrib merayap.Langit menggantung, tenang,
menyaksikan kita berpisah,
tanpa air mata, tanpa suara,
hanya langkah menjauh,
beriringan dengan senja.Rindu tak perlu kembali,
seperti angin membawa malam,
kita mengerti,
bahwa sunyi ini
bisa menjadi teman.
-
Kopi Dingin Sebelum Subuh
Di meja kecil, kopi menunggu
dingin, seperti pagi yang malas
aroma deterjen dari laundry kiloan
menggantung di udara, menyapa hidung
mata berat, tapi pikiran berkelana
menyusuri jalan kenangan yang samarSeruput pertama, getir dan hambar
seperti cerita yang tak tersampaikan
raut lelah di cermin, tak berbohong
tapi ada ketenangan dalam rutinitas
satu tarikan napas, satu …
