Di depan rumah itu, pohon ketapang berdiri,
Kita mencari alamat, tapi langkah tersesat,
Dalam percakapan yang putus-putus,
Seperti jarak waktu yang enggan menunggu.
Kamu bertanya, aku menjawab sekenanya,
Di antara daun-daun jatuh, kita berhenti,
Menatap alamat yang salah,
Seakan tahu tapi tak ingin tahu.
Di jalan pulang, kita tertawa hampa,
Pohon ketapang masih di sana,
Menjaga rahasia yang tak perlu diungkap,
Karena perasaan tak harus tuntas.

Leave a Reply