puisi tentang perjalanan batin
-
Halte dan Gerobak Nasi Goreng
Di bawah lampu redup, suara gerobak berderak
Menyusuri jalanan sepi, aroma bumbu menggema
Kau duduk di sampingku, bibir terkunci rapat
Langit malam mengawasi, diam penuh tanyaKata-kata menari di udara, tak terucap
Sementara gerobak terus berkeliling, tak peduli
Kemarahanku mengalir, seperti sungai tertahan
Menunggu pecah, menunggu waktu yang tepatNamun dalam hening, aku temukan kedamaian
…
-
A Bus Rides Echo
The bus hums through the night,
a forgotten wallet whispers
between the seats, a pause,
where unspoken words linger,
like a rak sepatu on the porch.A conversation never had,
frozen in the chill air,
questions that drift, unanswered,
as the bus sways, cradling silence,
a momentary shelter from the cold.The night stretches on,
…
-
Kopi Dingin di Kursi Plastik
Di kursi plastik, sarung tergantung malas,
Kopi dingin tersisa sebelum subuh,
Menyeruput pahit yang tak lagi hangat.Langit kelam, angin berbisik pelan,
Mata menatap jauh, mencari jawaban,
Tapi ragu menyelinap, mengisi ruang.Pagi tak selalu datang dengan kemenangan,
Kadang hanya sepi yang menunggu,
Mengajarkan tak semua harus dimenangkan.
-
Flickering Streetlights
We walked the streets, searching for a name
that seemed to dance away from our grasp
the map crumpled, a silent witness
to our endless circling, under flickering lightsThe night air whispered secrets, unknown
as if the wind carried tales of old
we followed echoes, footsteps on cobblestones
each turn a question, each pause …
-
Closing the Laptop
The screen dims, a quiet sigh escapes,
fingers linger on the keys,
unfinished thoughts whisper,
like echoes in the hollow room.
Shoes rest on the terrace rack,
worn soles speak of journeys halted,
and I pause, listening to silence.Outside, the evening air breathes cool,
carrying remnants of unsaid words,
the soft rustle of leaves,
…
-
Pintu Terkunci di Pagi Sepi
Di pagi terlalu sepi, suara
terdengar dari balik pintu,
mengunci cerita semalam
dalam lipatan kain sarung.Kursi plastik di sudut ruang,
menyimpan jeda panjang,
seperti napas terhenti,
menunggu detak berikutnya.Pahit yang bisa diterima,
mengalir pelan di pagi ini,
seperti kopi tersisa di cangkir,
menghangatkan dinginnya pagi.Pintu terkunci, namun retakan
membuka celah pada cahaya,
…
-
The Passing Motors Echo
The laptop's glow fades, a silent retreat,
Unfinished words linger, caught in thought's web.
Outside, a motor hums, fleeting and brief,
Casting moving shadows across the wall,
A reminder of promises made in haste,
Now reconsidered under the quiet hum,
Where time pauses, inviting reflection.The room holds its breath, a witness to pause,
As …
-
Serpihan Kaca di Teras
Di lantai berserakan serpihan kaca,
cahaya pagi memantul tanpa malu.
Sapu di tangan, hati berdebar,
mengumpulkan sisa-sisa yang tersisa.
Rak sepatu di teras menyaksikan,
tanpa suara, tanpa tanya.Langkah kaki menghindari tajamnya,
seperti menghindar dari luka lama.
Tak ada yang harus indah,
hanya kebenaran yang ingin diucap.
Cermin di sudut, menatap balik,
menggenggam keberanian yang …
-
Faded Shop Signs
In the corridor, silence stretches thin,
as the clock ticks its quiet rhythm.
The air holds the scent of waiting,
like a forgotten book on a dusty shelf.
Papers rustle like whispers of an old tale,
the chair creaks with each uncertain shift.A faded shop sign outside the window,
letters worn by countless storms,
…
-
Gerimis di Atap Parkir
gerimis turun pelan di atap parkir
kabel listrik melintang di udara
mengingatkan catatan lama yang terlupaaku berdiri di kejauhan, menatap
seperti membaca kembali cerita usang
di antara derai air yang jatuhrasa ingin tahu merayap pelan
menyentuh getir yang tertinggal
penyesalan, bagian dari tumbuh
-
Jam Dinding di Angka Dua
Dari jendela bus, kulihat layar itu padam
Tangan menggenggam erat, menutup dengan ragu
Senyum tersungging, menyembunyikan bimbang
Detik-detik terhenti, jam dinding di angka dua belas
Titik-titik… menyisakan ruang tanpa suaraDi luar, jalan berkelok tanpa akhir
Roda berputar, membawa kita entah ke mana
Sebuah perjalanan, tanpa panduan pasti
Mungkin dunia memang berjalan sendiri
Sementara kita …
-
A Bouquet Mistaken
The door creaks open, unfamiliar faces
greet my awkward smile, hands clutching
a bouquet meant for another tale.
The petals, vibrant yet misplaced,
speak a language of their own,
as if whispering secrets of longing
in this unintended sanctuary.A school uniform hangs by the door,
a reminder of days structured,
of paths once clear …
-
Suara Adzan dan Telepon
Kepada kamu yang jauh, di sana
Aku menulis ini dalam jeda,
Menarik napas panjang, sebelum suara
Dari ponselku menghubungi kita.Di kejauhan, adzan magrib bergema,
Seolah mengisi ruang di antara kita,
Suara dingin, berusaha ramah,
Menembus jarak, yang tak mudah.Namun di tengah tersesat, dalam kata,
Aku temukan arah, yang selama ini,
Tersembunyi di balik …
-
Kaleng Biskuit di Stasiun
Di balik suara kereta yang menjauh
seorang ibu berkisah tentang pagi
dan kaleng biskuit bekas di tangannyaMemecah sunyi dengan benang pengharapan
menjahit waktu yang tak pernah tiba
menemukan cara untuk merelakan
-
Steam and Shadows
A pot whispers, holding its breath,
steam curls like thoughts unspoken,
I sift through pages, old ink,
each word a sigh, a pause,
motor hums slide past the window,
their echoes ripple through silence.The kettle's murmur grows insistent,
as if urging me to remember,
the past clings to my fingers,
like dust on forgotten …
-
Alarm dan Suara Adzan
Alarm berbunyi, mengusik pagi yang dingin,
jari menekan tombol, lalu diam.
Di luar, suara adzan magrib,
menyusup lewat jendela terbuka,
mengajak jiwa mengingat waktu.Setiap detik berlalu, membawa kenangan,
seperti embun yang menguap perlahan,
meninggalkan jejak samar di kaca,
namun tak pernah benar-benar hilang.
Ada rasa yang tertinggal di sudut hati.Mata terpejam, terbayang hari-hari …
-
Lorong dan Papan Nama Pudar
Di lorong kantor yang sepi, aku menunggu,
kursi-kursi berderet, kosong dan dingin,
detak jam terdengar jelas, memecah sunyi,
papan nama toko di seberang, pudar warnanya,
seperti cerita lama yang nyaris terlupaLangit-langit putih, menatapku tanpa ekspresi,
detik melambat, menggantung di udara,
sepatu-sepatu berlalu, meninggalkan jejak samar,
pintu tertutup rapat, menyimpan rahasia,
aku menanti, mencari makna …
-
Kopi Dingin Sebelum Subuh
Kau tahu, pagi ini terasa berbeda
Seperti menyapa seorang teman lama
Yang belum pernah kutemui,
Di antara aroma kopi yang dingin
Dan ketapang di depan rumah.Ada jeda di antara seruputan
Seolah ingin mengulur waktu
Sebelum gelap menyerah pada cahaya
Dan subuh menghapus sisa malam
Di jalan setapak menuju hari baru.Aku berbicara pada langit …
-
A Small Bracelet Under the
Dusty whispers beneath the bed,
a small bracelet, forgotten,
like the echo of a laugh,
lingers in the air,
where memories fragment.The waiting room, a puskesmas chair,
silent witness to passing hours,
holds stories, untold,
like this bracelet,
nestled in its quietude.I watch from afar, detached,
as if the world spins,
without me,
…
-
Hujan di Jendela Bus
Kaca bus berembun, hujan menetes
Mata setengah terpejam, jalanan basah
Langit abu-abu, samar-samar terdengar
Ritme roda di jalan yang panjang
Ember air di kamar mandi teringatPenumpang berbisik, suara tertahan
Kursi bergetar lembut, detak jarum jam
Langkah hujan di atas atap
Satu ingatan mengalir di sela tidur
Seperti lagu tua, mengisi ruang kosongDi luar, …
-
Papan Nama Toko yang Pudar
Di bawah papan nama toko yang pudar,
aku mendengar doa tanpa suara,
pesan yang tak sempat terucap,
terhapus dalam getir yang tenang.Kata-kata tersangkut di ujung jari,
menyelinap di antara huruf yang gugur,
seperti daun-daun kering,
jatuh sebelum angin sempat meniup.Di sudut jalan yang sunyi,
waktu berlalu tanpa tergesa,
membiarkan pesan yang hilang,
berbicara …
