Setiap detik namamu terucap,
Di antara 7 bintang yang berkelip,
Di atas langit biru yang luas,
Semoga meluncur hingga ke puncak, kembali ke bumi sebagai anugerah.
Tag Puisi: cinta yang abadi
-
Suaraku di Angkasa
-
Cahaya di Ujung Jalan
kau bukanlah bintang
namun sinarmu selalu menarik malam
menjadi lentera yang menerangi jalanku
keberadaanmu adalah alasan
mengapa langit berwarna jingga saat senja, dan
memaksaku menyalakan api
untuk kesekian kalinya, dari
serpihan kayu yang telah lama ku simpan.
Aku hanya terkejut saja
bahwa aku yang telah menjauh
dari pelukanmu yang hangat dalam janji,
masih mampu merasakan hadirmu yang jauh
tetap meyakini cintaku.
Maka aku mohon kepadamu,
berilah harapan kepada sepasang tangan
yang mungkin sedang menulis bait ini.
Atau kita bisa sepakat,
melalui segala yang ada, bahwa Sang Pencipta pun tahu
cintaku takkan pudar oleh waktu hingga akhir hayatku
dan akan ku sambut kau di waktu yang lain.
-
Jejak di Pasir
jika aku berkelana lalu datang ombak pasang
pantai-pantai sepi, karang pun terbenam dalam gelombang
hanya suara debur hatimu, Ibu, yang terus menggema
bila aku berkelana
manisnya kue tradisionalmu dan kenangan masa kecilku
di jiwa ada embun pagi meneteskan rasa rindu
karena hutang budi padamu takkan pernah terbayar
Ibu adalah pelabuhan jiwaku
dan engkaulah yang mengantarkanku ke sini
saat bintang berkelip menebar kasih sayang
Ibu menunjuk ke bulan, kemudian ke lautan
aku mengangguk meski tak sepenuhnya paham
bila kasihmu bagaikan langit
sempitnya awan cerah
tempatku bernaung, menghapus debu di hati
tempatku berlayar, menebar jala dan mengikat harapan
ikan-ikan, mutiara dan ombak semua untukku
jika aku menghadapi ujian dan ditanya tentang pahlawan
namamu, Ibu, yang kan kusebut paling awal
karena aku tahu
engkau Ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang badai
Tuhan yang kau tunjukkan telah kukenal
engkaulah itu bidadari yang bersinar di ufuk timur
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis lautan biru
dengan sajakku.
-
Simfoni Hujan
Hujan yang berirama adalah sahabatku,
Dan aku adalah pendengarnya,
Akhirnya kami terjalin dalam melodi,
Namun kemudian Angin memisahkan langkahku darinya.
Kupergi padanya dengan lembut
Lalu berpisah dengan penuh rasa.
Membisikkan harapan berulang kali.
Aku segera melangkah pelan
Dari balik kelamnya awan
Untuk mengalunkan nada-nada lembutku
Ke pelukan tanah yang basah
Dan kami berpadu dalam harmoni terindah.
Aku sirami kerinduan ini
Dan suaraku memenuhi segenap ruang hatinya
Dia menenangkan jiwaku dan meredakan resah di dada.
Kala senja tiba, kuucapkan janji abadi
Di telinganya, dan dia memelukku penuh rasa
Di hangatnya malam kunyanyikan dia lagu kasih
Diiringi tetes-tetes rindu yang tak henti
Gerakku terhanyut dalam keraguan
Sedangkan dia tetap setia dan tenang.
Ruangnya yang luas meneduhkan kegelisahan
Kala rintik kami saling berpelukan
Kala reda aku berlutut menjamah bumi
Memanjatkan doa
Seribu harapan, aku selalu berjaga sendiri
Menyusut kekuatanku.
Tetapi aku pencinta melodi,
Dan kebenaran cinta itu sendiri megah,
Mungkin keletihan akan menimpaku,
Namun tiada aku akan sirna.
-
Aku dan Kesunyian Hati
Aku dan kesunyian hati
merasa jauh dari sinarmu
padahal kau begitu dekat dalam jiwa
beritahulah aku dengan segenap rasa
apa yang terpendam di dalam benakmu
bukan sekadar janji yang terucap
perhatikanlah aku dan kesunyian ini
menyimpan cinta dalam sepi
apakah hidupku hanya berisi kesedihan?
apakah hanya kesedihan yang mengisi hariku?
hanya ada kesedihan dalam hariku
apakah hidupku hanya kisah tentangmu?
apakah hanya kisah tentangmu yang menghuni jiwaku?
hanya ada kisah tentangmu dalam jiwaku
ambilah kesedihanku
sebagai teman dalam perjalananmu
biarkan diriku tenggelam dalam kesunyian
aku akan selalu mencintaimu
hingga akhir cerita hidupku
mintalah janji dengan sepenuh hati
maka akan kuberikan segenap jiwa ini
-
Cinta di Ujung Senja
cintaku takkan pudar,
dalam pelukan malam yang merangkul,
meski bintang-bintang mulai redup,
yang menutupi cahaya harapanmu
-
Sinar di Ujung Jalan
Sang jiwa terkurung rasa
Sang raga terhimpit waktu
Untukmu yang jauh di sana
Cinta ini bukan sekadar cahaya
Bulan telah menghilang dari pandang
Namun cinta ini takkan pudar dalam sepi
Walau hati tak berbalas rasa
Namun mencintai sepenuh jiwa
Perlu kau ingat cinta ini terpatri di antara jeruji
-
Dalam Pelukan Angin
apa kabar, Ibu?
dalam bisikan malam yang sepi
seperti angin yang merayu dedaunan
membawa cerita tentang kerinduan
sering kali aku terjatuh, Ibu
namun kau selalu hadir dalam mimpi
menyirami jiwa yang kering dengan kasih
aku ingin berlari, Ibu
menuju pelukanmu yang hangat dan abadi
seperti embun pagi yang menyejukkan
air mata ini tak pernah berhenti
membasahi kenangan yang terpendam
untukmu, anakmu yang tersesat di dunia
aku ingin mendekat, Ibu
seperti bintang yang mencari bulan
dalam gelapnya malam yang tak berujung
namun kau menahan langkah ini dengan lembut
mengusap dahi ini yang penuh kerinduan
seraya berbisik, belum saatnya
kapan saat itu tiba, Ibu?
aku ingin menemanimu dalam perjalanan
yang dulu terhenti oleh waktu
yang dulu terabaikan oleh kesibukan,
duhai, Ibu.
-
Senyap di Ujung Jalan
Langkahmu menjauh, kami terdiam,
seakan waktu membeku di antara kita.
Yang tersisa hanyalah suara angin,
menyapu kenangan yang tak terucap.Kehilangan ini seperti malam tanpa bintang,
gelap yang menyesakkan dada,
meninggalkan jejak di hati,
yang takkan pernah pudar.Ibu,
setiap detik kami menunggu,
berharap bayangmu kembali,
dan jangan pernah berpikir,
untuk pergi lagi dari pelukan kami.
-
Langit yang Bergetar
Minggu pagi, embun menari,
berpadu dengan angin, dan bintang-bintang beristirahat,
awan menutupi kita dalam kenangan yang tak terlupakan,
namun segala sesuatu mulai bergejolak,
hidup menjadi tantangan yang tak terduga,
dan aku tetap berdiam,
melangkah dan pergi,
bahwa suatu hari nanti,
langit ini kan membawaku kembali padamu,
bahwa suatu hari nanti,
aku akan terus memelukmu,
-
Lautan Kenangan
Laut ini menyimpan jejak langkah,
pertemuan pertama,
saudara sejatiku,
ombak-ombak harapanku,
dan dirimu.
-
dalam pelukan malam
DALAM PELUKAN MALAM…!!!!!!!
Saat bintang berkelip,
Menggugah jiwa yang terlelap,
Hening suara angin berbisik,
Menggugah rasa akan kasih yang abadi,
Pelan-pelan cahaya menembus ruang,
Seolah tak ingin mengganggu rasa,
Tenang seolah dunia tak berputar,
Senyum bulan menyapa dengan lembut,
Namun saat cahaya menyentuh hati,
Nyata kehadirannya menggetarkan jiwa,
Tanpa diminta air mata jatuh,
Suasana sunyi seolah terkurung,
Di tempat yang tak pernah ku duga,
Pikiran seolah melayang jauh,
Alunan malam masih bergetar,
Tapi suara itu lebih kuat mengguncang rasa,
Mengapa!!!! Mengapa harus begini,
Keadaan ini membunuh harapan,
Aku melangkah memasuki ruang sunyi,
Suasana yang tak pernah ku impikan,
Keadaan yang paling ku takuti kini datang,
Sungguh..!!!benci, aku benci pada semua ini,
Mengapa kini saat mimpi hampir terwujud,
Segalanya bergerak seolah tanpa jiwa,
Ku tatap wajah lesu saudara,
Oh..tuhan apakah kasih,
Pada ibu, al-fatihah untukmu,
Pada ibu, insyaallah surga menantimu,
Pada ibu, yassin dan doa untukmu,
Pada ibu, cinta kami bersamamu,
Pada ibu, kami menyayangimu,
Pada ibu, kau kan selalu di ingatan,
Pada ibu, ku butuh maaf darimu,
Pada ibu, ku perlu kasih sayangmu,
Ibu, ibu, ibu……. al-fatihah untukmu,,,,
Ibu, ibu, ibu,,salam rindu ku kirim,
Dalam yassin dan doa yang terucap melalui
-
Aku dan embun
Jalan ini berkilau,
berselimut embun pagi.
Namun aku, sepi,
Kering oleh harapan.
Butiran ini menutup jejak langkah,
Namun cintamu abadi dalam ingatan.
-
Seruan di Tengah Hujan
mengagumimu adalah embun pagi yang tak pudar oleh siang, tidak pula cahayanya terhalang awan kelabu dimana kupu-kupu kecil menari di antara dedaunan hijau dengan sayap-sayapnya yang ceria.
jangan biarkan waktu berlalu, kasih. aku butuh tawamu yang menghidupkan bait-baitku agar aku tetap bernyawa. dan meski aku harus pergi, ingin aku terpatri dalam detak jantungmu.
-
Peluk Hangat di Ujung Senja
Ibu
Sosok wanita tangguh nan bersinar
Penggenggam harapan dalam dekapan malam
Bagai rembulan yang memancarkan cahaya
Menghiasi gelap dengan kehangatan
Ibu,
Kau setia sekuat ombak
Kau ceria secerah pagi
Meski badai datang menghempas
Selalu tersenyum menebar cinta dan kasih
Ibu,
Tempatku berbagi cerita
Tempatku mengadu pada kesunyian
Tempatku bersandar saat lelah menghampiri
Kau selalu ada dalam setiap langkahku
Ayah,
Kau sosok gagah nan bijaksana
Pelindung dalam dekapan hangat
Dengan penuh cinta dan tanggung jawab
Kau ajarkan arti dari setiap detik
Ibu….
Ayah….
Kini saatnya ku angkat wajahmu
Ku hapus air matamu
Ku maniskan harapanmu
Ku bangga atas cinta dan pengorbananmu
Ibu….
Ayah….
Terima kasih …….
Atas segala perhatian dan kasih sayangmu
Yang tulus untuk kami anakmu
Kami selalu mencintaimu.
Sekarang, nanti dan selamanya.
-
Suaraku di Hutan Sunyi
Kadang sulit bagiku tuk sampaikan rasa,
yang ingin kuucapkan,
tak perlu keramaian,
hanya kau dan aku,
dengan dedaunan yang berbisik,
tutup jalan setapak,
hingga sunyi menyelimuti,
tinggalkan sejenak hiruk-pikuk,
aku ingin berbagi,
terima kasih telah menemani,
jadi bintang yang bersinar,
ketika malam datang,
meski gelap menyelimuti,
kau selalu ada di sampingku,
terima kasih malam, alam, dan semua yang tenang,
aku mencintaimu sepekat hutan yang dalam
-
Lagu di Antara Ombak
ombak malam menyapu kenangan
tersembunyi dalam relung hatiku yang bergetar
beberapa bait kembali seperti pasir
mengalir di aliran darahku yang berapi
kemudian memudar menyesapi getir
akan ketidakpahaman cinta yang tak terucap
oleh jiwa-jiwa setelahmu
jangan kau kira ada yang sebanding
dalam hal mencintai
tidak pula dengan embun pagi yang abadi
air mata akan menuntunku
kembali menelusuri gelap pikiran
setelah kepergianmu
untuk menemukanmu kembali
terdiam menanti cahaya
yang akan memancarkanmu
menjadi bulan dan kilau bintang
menyatu dan menjadi harmoni
atau rasa yang manis
di atas samudera tenang yang memantulkan
cahaya-cahaya bintang di langit selatan dan
akan kukembalikan kau ke sana
seperti Orion secerah-cerahnya.
