jika kau berada di sana dan memikirkan aku
serta berharap aku segera melangkah
menghapus jejak air mata kerinduan yang tak sirna
maka wujudkan sungai
yang mengalir di antara bebatuan
atau suara burung hantu
dan riak air yang bergetar lembut
bahwa aku menyusup
dalam tiap kata dan celah jari-jarimu yang anggun
membawa buah ceri yang manis
hingga tulisan yang kau pegang
lalu kau gores bisa kau rasakan
semanis ceri yang dipetik
para penjaga hutan yang selalu setia
pada puisi.
jemput dan hapus kerinduanmu itu
dengan sekali pelukan
lalu kita akan mengalirkan rasa
dengan perasaan yang paling ceria
membuat dewi asmara pun terpesona
dengan cemburu yang menyala
dan menyusup pada relung hatinya.
Tag Puisi: keindahan dalam kesedihan
-
Sungai yang Mengalir Rindu
-
Simfoni Dalam Kesunyian
Saat AKU bertanya
Apakah itu keindahan?
Saat AKU bertanya
Apakah itu kegelapan?
Saat aku bertanya kembali
Apakah itu hakikat jiwa?
Seperti angin yang berhembus
Empat puluh derajat menjadi sudutnya
Ritme, nada, dan harmoni lain telah mengusik ketentraman
Dan sudut itu telah bergeser
Oleh hembusan yang mengguncang keyakinannya
Namun
Sebuah simfoni terlahir
Dari nada tinggi, rendah, dan penuh
Tidak melangkah mengikuti notasi begitu saja
Sebuah irama yang megah membentuk garis yang menciptakan sebuah melodi yang menawan
Setiap kegelapan disertai cahaya
Setiap rendah disertai tinggi
Karena begitulah jiwa terlahir
Menciptakan cahaya setelah dua nada di akhir menandakan penutup dari sebuah perjalanan
-
gelas yang terisi
Gelas yang terisi
Aku pernah terbuai oleh cahaya yang keliru
Terlena dalam manisnya janji yang palsu
Jauh dari hakikat embun pagi
Diri tak mendengar bisikan hati
Hati terperangkap dalam badai dunia
Sebuah gelas berhiaskan corak yang megah
Ia disuguhkan tanpa syarat
Namun, tak bijak akal seperti burung merak
Memilih antara emas dan debu
Kini..
Bagai benih yang merindukan hujan
Penyesalan kembali menjadi angin
Aku telah memilih
Jalanku mungkin tak sejalan dengan mereka
Jalanku mungkin tak seindah harapan
Aku pernah berada di waktu itu
Waktu ketika perahu tenggelam di tengah samudera
Tak lagi punya suara untuk sekadar berpamitan
Kini.. Tuhan bersahabat
Menghukum keras kekalahan jiwa
Sadar benar-benar sadar
Gelas terisi kembali dibungkus
Tetap dengan keindahannya
Sungguh tak terduga bunga harapan tumbuh kembali
-
Kembang Kertas
Di tengah malam yang sunyi
Ku tatap kembang kertas merah
Walau hanya sekejap, sinarmu bersinar
Menggugah jiwa dalam lamunan
Sekali lagi kutoreh biru langit
Menggambarkan sosok dalam ingatan
Lalu kuungkapkan tentangmu dalam baitku
Itulah puan, saat rindu merasuk ke kalbuKembang Kertas 2
Bagaimana mungkin ku sembunyikan rindu
Saat ia terus bergetar tak henti
Bagaimana bisa ku berhenti menuliskanmu
Jika senyummu seperti kembang kertas kuning
Dan sesekali kutoreh biru langit
Menggambarkan sosok dalam ingatan
Lalu kuungkapkan tentangmu dalam baitku
Itulah puan, saat rindu merasuk ke kalbuKembang Kertas 3
Kini harumnya bercerita,
Di jatuhnya kembang kertas dari ranting,
Di gelapnya malam yang merayap,
Bisiknya,
Ada rindu yang terhampar,
Yang tak sempat terucapkan,
Ia hanya terdiam,
Sesekali melayang,
Meski jelas tanpa arah,
Dalam harumnya,
Dalam hangatnya,
Dalam pekatnya,
Terjalin manisnya kisah
-
SANG SURYA DI BALIK AWAN
mengukir cahaya dalam gelapnya malam
hanya akan membuat rembulan itu
seperti embun pagi yang terhapus
oleh hangatnya sinar mentari.
sungguh, tak mampu aku mencari
sebuah makna yang terlampau samar,
dengan warna yang lebih pudar dari
cahaya bintang menjelma
keheningan di tengah riuhnya.jika kelak terlintas tanya dalam
benakmu yang bimbang itu,
dari apa jiwa para pelukis terlahir?
sebab hadapilah cermin yang
tak menyimpan rahasia;
awan berarak di pelupuk matamu,
nyanyian burung bersemayam pada
suara lembutmu, dan sinar pagi
mendamaikan hatimu.dan, kupastikan semua itu tak akan sirna.
lantas air mata, yang tak serupa
apapun dalam dirimu, ambillah,
karena hanya ia yang tersisa.
agar tiap goresan yang keluar dari
ujung kuas ini menjadi utuh
dan yang terlukis menjadi abadi.
