puisi tentang harapan yang pudar
-
Seragam Sekolah di Warung Kopi
Di sudut meja, seragam sekolah terlipat
Menggantung pada malam yang tak beranjak
Menanti pesanan yang tak kunjung tiba
Kopi hitam dingin, menemaniku dalam heningMalam merayap lewat jendela kaca
Menghitung detik di antara napas
Kursi kosong seolah bicara… tentang janji
Yang menguap bersama asap rokokDi luar, lampu jalan berkelip samar
Seperti harapan yang terjaga …
-
Sendal Jepit di Dekat Pintu
Di bus malam yang melaju, aku duduk tenang.
Lalu menyadari dompet tertinggal, tertinggal di kursi.
Suara mesin berderu, mengulang kisah yang sama.
Sendal jepit di dekat pintu, menanti langkah pulang.
Di luar jendela, bintang-bintang berkelip samar.
Ada jeda… dalam pikiran yang beriak.
Mengingat janji yang pernah terucap.Sendal jepit itu, setia menanti.
Aku mengulang, mengulang …
-
Jam Dinding di Ruang Tunggu
Di ruang tunggu ini, waktu terhenti
jam dinding tak bergerak, berhenti
pada angka dua belas, tak bergeming.
Suara sepatu beradu lantai, berbisik
mengisi sunyi yang melingkar di udara.
Ada yang menanti, ada yang bertanya
tanpa suara, hanya tatap mata.Kursi-kursi berderet, dingin dan kaku,
dingin dan kaku, menampung resah
dari mereka yang datang dan pergi.
…
-
Kipas Angin dan Lampu Jalan
Di depan kipas, rambut mengering sendiri,
mengulang, mengulang suara hati yang pelan,
lampu jalan berkedip, menunggu malam.Angin berbisik, membawa harapan samar,
mengulang, mengulang cerita yang tak tiba,
di sudut ruang, tak ada yang menjawab.Suara kipas, penghibur dalam kesunyian,
mengeringkan ingatan, menari di kepala,
lampu jalan menggambar garis waktu.Pelan, kuterima bahwa pagi tak …
-
Newspaper on the Coffee Table
Pages rustle like tired whispers,
ink smudged by restless hands.
An ashtray overflows with stories,
each cigarette a promise forgotten.
I hear the echoes of silent thoughts.Words drift like smoke in the air,
headlines scream without a sound.
Promises linger like ghosts,
waiting to be believed or ignored.
Not all vows need to be …
-
Jam Dinding di Angka Dua
Di ruang sepi, hati menunggu,
detik terasa lambat, melingkar terus,
jam dinding berhenti di angka dua belas,
seolah ingin menyimpan waktu,
satu pesan yang tak tiba,
menggantung di udara, tak berjejak,
menyisakan sunyi yang tak terjawab.Menulis dari dalam kenangan,
menulis dari dalam harapan,
yang tak kunjung pudar,
setiap huruf mengendap,
seperti debu di jendela,
…
-
Papan Nama yang Pudar
Di ruang dingin, waktu melambat,
papan nama toko di seberang, pudar,
seorang pria menunggu, tenang,
pikirannya melayang pada hasil.Tanda-tanda tua di dinding,
memberi isyarat masa lalu yang hilang,
cinta tak lagi jadi jawaban,
hanya sisa-sisa harapan yang tersisa.
