Di ruang tunggu ini, waktu terhenti
jam dinding tak bergerak, berhenti
pada angka dua belas, tak bergeming.
Suara sepatu beradu lantai, berbisik
mengisi sunyi yang melingkar di udara.
Ada yang menanti, ada yang bertanya
tanpa suara, hanya tatap mata.
Kursi-kursi berderet, dingin dan kaku,
dingin dan kaku, menampung resah
dari mereka yang datang dan pergi.
Di sudut, seorang pria berpeluk tubuh,
menggenggam harap di ujung jemarinya.
Detik-detik terperangkap, memudar dalam
gumam doa yang terucap tanpa suara.
Langit-langit tinggi menyimpan rahasia,
menyaksikan setiap perjalanan yang usai.
Di sini, kita menunggu tanpa alasan
menerima kehilangan yang tak terucap.
Waktu menyelinap, menghapus jejak
dan di akhir, hanya ada kita,
berdamai dengan sunyi yang tak terjelaskan.

Leave a Reply