Di sudut dapur, kaleng biskuit usang
menanti benang dan jarum
seperti menanti langkahmu pulang
tanpa suara, tanpa gemuruh
mengapa tak kembali, meski sejenak
ada bisikan yang tak terucap
Malam menggulirkan pertanyaan
di antara desir angin dan daun
kau pergi, meninggalkan jejak samar
seringkali bertanya pada bintang
adakah tempat yang lebih hangat
dari dekapan yang tak pernah terucap
Pagi datang dengan keraguan
seperti senyum yang tak sempurna
aku menata kaleng biskuit
mengisi dengan asa yang rapuh
tanpa tahu kapan kau kembali
atau mungkin tak pernah ada niat
Di ujung hari, hanya ada sunyi
dalam percakapan yang tak terjadi
kau memilih pergi, aku memilih menunggu
tanpa jawaban, hanya tanda tanya
cinta tak selalu jadi alasan
untuk pulang ke rumah

Leave a Reply