Di ruang sepi, hati menunggu,
detik terasa lambat, melingkar terus,
jam dinding berhenti di angka dua belas,
seolah ingin menyimpan waktu,
satu pesan yang tak tiba,
menggantung di udara, tak berjejak,
menyisakan sunyi yang tak terjawab.
Menulis dari dalam kenangan,
menulis dari dalam harapan,
yang tak kunjung pudar,
setiap huruf mengendap,
seperti debu di jendela,
memandang keluar menanti,
sebuah jawaban yang tak terucap.
Adakah pesan itu tersesat,
atau hilang di antara kata,
yang tak sempat terangkai,
seperti hujan di musim panas,
datang sekali, lalu pergi,
meninggalkan jejak samar,
di jalanan yang basah.
Kini aku tahu, tak semua,
yang diharapkan harus dimenangkan,
ada saatnya melepaskan,
seperti daun gugur,
menyerah pada angin,
membiarkan waktu berlalu,
tanpa harus memenangi segalanya.

Leave a Reply