Alarm berdering, melompat dari sunyi
di sela mimpi yang tersisa,
menyusupkan suara anak-anak bermain,
petak umpet di lorong sempit.
Kritik lembut dari waktu,
menyentuh pipi yang masih hangat,
mengundang tidur kembali.
Tangan menggapai, mematikan dering,
seperti menunda keputusan besar.
Empati tertinggal di sudut bantal,
di mana mimpi belum selesai,
dan hari belum dimulai.
Suara tawa kecil di luar,
menggoda pagi yang enggan tiba.
Mengampuni diri dalam kelopak mata,
yang menolak terbuka penuh,
menyadari tiap detik adalah anugerah,
meski dalam penundaan.
Alarm berbicara tanpa suara,
mengerti tanpa harus dimengerti,
seperti pagi yang memaafkan.

Leave a Reply