langit senja beranjak
warna jingga memudar perlahan
aku mulai mengerti
ada yang hilang di hatimu
atau mungkin hanya khayalanku?
entahlah… hanya jiwamu yang bisa menjawab
kau boleh pergi dari ingatanku
melangkahlah…
tapi jangan biarkan harapanku terombang-ambing
ombak-ombak rindu menanti sentuhanmu
sambutlah dan lupakan aku
agar aku tak tersesat dalam kenangan
cinta ini akan selalu untukmu
Tag Puisi: cinta yang terpendam
-
Jejak di Pasir
-
Menyusuri Kenangan
Embun pagi membawaku pada nostalgia
Menggugah rasa akan kisah yang hilang
Tersenyum mengingat kita yang pernah ada
Terkubur di antara terang sinar mentari
Runtuh dalam jiwa yang ku sembunyikan
Terdiam dalam heningku..
Masih kita yang terindah..
Masih nada lamamu yang merdu
Masih kerinduan itu menggelora
Masih senyummu, tatapanmu, suaramu
Masih kita..
Menyusuri kenangan..
Di tepi danau yang menyimpan cerita
Di antara dedaunan yang menyimpan rasa
Di tiupan angin yang membawamu pergi
Di pelukan hangat yang ku impikan
Di harapan akan kebersamaan
Cinta kah itu..?
Menyusuri kenangan..
Di penyesalan atas kepergianmu
Di hadirmu yang tak terwujud
Di kesedihan yang menanti
Di kekecewaan yang jatuh dalam hampa
Di tangisku yang mengingat kita
Di pilu yang lembut menggores lukaku
Seakan kau tak hargai kesetiaanku
Hingga pedihku ingin melupakan
Hingga aku berharap kita tak pernah ada
-
Bulan yang Menggenggam Rindu
setiap bintang yang berkelip menyimpan cerita yang takkan pudar saat malam menjelma.
seperti malam ini, bulan di langitmu kembali menari di atas bayang-bayang yang kita ukir dan setiap jalan setapak akan mengalirkan ingatan yang pernah kita lalui saat aku melangkah sambil mengingat detik-detik indah kita bersama tawa yang menyatu dalam waktu.
lagu yang merindukanmu seperti pasir yang terhempas ombak dan mengalir lalu membawaku kembali ke pantai, tempat seharusnya kita berbisik menuju cakrawala.
duhai bintang malam, hatiku yang kini tak lagi utuh tak ingin dipandang iba sebab menantimu untuk sejenak cukup menjadi bara bagaimana caraku ingin merangkul kenangan itu.
tunggulah malam ini, dengan sehelai kain, akan kutenun ungu dari jiwaku yang terkurung dalam kerinduan akan keberadaanmu.
dan jika aku bertemu lagi denganmu yang kini serupa ilusi, maka akan kutuntaskan rasa ini dengan memintamu jangan pergi, untuk sekali saja.
-
Kisah di Ujung Senja
Cukup aku menyimpan rasa dalam sunyi,
Lalu menutup semua harapan yang terukir,
Lantas sebaris tanya menghantui pikirku,
Pernahkah namaku terucap di hatimu saat kau jauh dariku?Kau lihat langit yang kelabu itu,
Manakah yang lebih sabar,
‘Senja yang Terluka’ karya Sang Penyair,
Ataukah Senja Rinduku yang membasahi bait-bait saat mengenangmu,Selalu ada alasan,
Mengapa aku ingin tetap menjadi bagian dalam hening do’amu,
Selalu itu tentang sebuah pinta akan kasih dan kerinduan yang takkan pudar,
Jalan ini sepi,
Setelah festival pergi,
Tawa tangis kisah cinta ada di sana,
Meriah tersisa hanya jejak-jejak luka.
-
Jejak di Pasir
di tengah hening angin berbisik
entah mengapa jejakmu selalu mengikutiku
meski aku tahu akan mengguncang kembali rasa itu
namun tak bisa ku tutup mata
jiwaku tak ingin menghapus setiap kenangan
pikiran ini bergetar mencari harapan untuk kembali
dan hatiku ingin menggenggammu lagi
semoga masih ada ruang untuk kita berbicara
mengurai simpul yang pernah mengikat
-
Hening di Antara Bintang
Karena,
Takkan pernah kita bersua,
Maka aku menulis bait-bait jiwa,
Di mana semesta berputar sesuai harapanku,
Dan kau serta aku menjadi satu…Hanya bisa memanggil kenangan untuk mengusir sepi,
Namun ia datang dengan teman setia,
Selalu membawa kerinduan.
Terbayang suatu saat jari kita bersatu,
Terlelap bersama di bawah cahaya malam.
Hening ini selalu membawaku padamu
-
Ketika Senja Berbisik
Aku tak lagi tahu cara menulis rasa
pada selembar kertas
yang kau titipkan dengan janji yang samar
pasti dan pelan
terhenti di sudut harapan
kau ubah menjadi embun
yang tak terukur
dengan riuh yang tak lebih gaduh
dari sepi yang kau bawa
bersama waktu yang kelabu
atau cahaya lilin yang mulai redup
menjadi sunyi yang di tepi mana aku berdiri
tak jua aku mampu mengerti.
Mungkin kau ingin pergi
atau sekedar menjauh sejenak
bahkan tak peduli terhadap jeritan hatiku
yang merintih dan terhidang
bagai sajian di meja sebuah desa yang sunyi
desa yang kerlip bintang-bintangnya
pernah kita anggap sebagai tanda
bahwa luka yang dalam mesti dibalut
dengan suara yang lebih lembut dari embun.
Kembalilah, aku hanya akan menanti
sendiri yang dulu pernah menemani
hanya berbeda kali ini
ada cerita yang tak ingin kutoreh
dengan jujur yang tersembunyi
sedang kau tak jua mengenali.
Biarkan kupejam mataku yang lelah
dimana air mata menetes darinya lalu mengalir
di tengah kabut pagi yang menyelimuti
pada jendela kayu lalu memilih untuk pergi
saat mentari mulai bersinar.
Kekasih, mungkin kau lupa satu hal;
bahwa pilihanku tak pernah keliru
memilih peran dalam kisah yang terukir
bagi siapa saja yang ingin mendengar
katup bibirku yang basah merah
menggema rasa yang tak pernah kuabaikan.
-
Di Ujung Senja
Aku terdiam di sini menanti,
Tanpa terasa bayangmu menghampiri,
Hingga waktu beranjak pergi,
Kekosongan ini menyelimuti,
Saat itu mungkin kau tak ada,
Saat hatiku merindukanmu,
Seperti embun yang menetes di pagi,
Dingin, hingga membeku,
Tak kunjung hangat,
Seperti dirimu yang tak kunjung kembali.
-
Sinar di Ujung Jalan
Sang jiwa terkurung rasa
Sang raga terhimpit waktu
Untukmu yang jauh di sana
Cinta ini bukan sekadar cahaya
Bulan telah menghilang dari pandang
Namun cinta ini takkan pudar dalam sepi
Walau hati tak berbalas rasa
Namun mencintai sepenuh jiwa
Perlu kau ingat cinta ini terpatri di antara jeruji
-
Dalam Hening Malam
Inilah caraku menahan ‘gelisah’ rindu bintang,
Dengan selalu mengingat sinar matamu yang cerah,
Walau ‘gelisah’ itu hadir saat kau memilih untuk terdiam, sementara jiwa ini terjerat rindu berulang kali…
Pernahkah di suatu malam,
Sebelum mimpi menyapa,
Aku melintas dalam pikiranmu,
Sebagai sosok yang dirindukan dalam hening,
Pernahkah…???
Saling menanti merindu dan tak pernah bersua, adakah kita seperti itu, puan? seperti dua kutub,
Siang dan malam…
Mungkin melodi ini bisa sejenak menenangkan rindu,
Saat jemari kita tak saling bersentuhan,
Desah lelaki rembulan…
-
Kembang Kertas
Di tengah malam yang sunyi
Ku tatap kembang kertas merah
Walau hanya sekejap, sinarmu bersinar
Menggugah jiwa dalam lamunan
Sekali lagi kutoreh biru langit
Menggambarkan sosok dalam ingatan
Lalu kuungkapkan tentangmu dalam baitku
Itulah puan, saat rindu merasuk ke kalbuKembang Kertas 2
Bagaimana mungkin ku sembunyikan rindu
Saat ia terus bergetar tak henti
Bagaimana bisa ku berhenti menuliskanmu
Jika senyummu seperti kembang kertas kuning
Dan sesekali kutoreh biru langit
Menggambarkan sosok dalam ingatan
Lalu kuungkapkan tentangmu dalam baitku
Itulah puan, saat rindu merasuk ke kalbuKembang Kertas 3
Kini harumnya bercerita,
Di jatuhnya kembang kertas dari ranting,
Di gelapnya malam yang merayap,
Bisiknya,
Ada rindu yang terhampar,
Yang tak sempat terucapkan,
Ia hanya terdiam,
Sesekali melayang,
Meski jelas tanpa arah,
Dalam harumnya,
Dalam hangatnya,
Dalam pekatnya,
Terjalin manisnya kisah
-
Sisa Angin Senja
Di ufuk yang merona jingga,
Apakah kau mendengar bisikan-bisikan hangat yang tak pernah berhenti membahas kerinduan…
-
Menelusuri Jejak Rindu
Berserakan semua,
pasir dan kerang,
jiwa ini bergetar,
terbayang senyummu,
berlari-lari,
dalam ingatan yang mendalam,
saat hati ini terjaga,
semuanya terlupa,
tak seperti kini,
rindu yang tak terukur,
melayang dan sirna,
mungkin aku masih ingin menelusuri jejak rindu
-
Sejak Senja Berbicara
Sejak cahaya meredup di ufuk barat
Sejak setiap detik mengalir penuh rasa
Sejak suara angin menyanyikan kisah kita
Sejak aku menaruh harap pada sinar
Sejak langkahmu menari di antara bayang
Sejak hatiku bergetar oleh rasa cemburu
Sejak saat itu keyakinanku
Bahwa waktu tak pernah sia-sia
Bahwa takdir selalu menanti
Dan sejak saat itulah padamu
Rinduku menggelora tak terhingga…
-
Jejak yang Hilang
Di tengah malam ini, aku terjaga menantimu,
Di antara bintang-bintang, aku terperangkap dalam harap,
Di antara bayang bulan, aku menanti sinarmu,
Mengapa kau tak juga muncul,
Hingga aku bisa tertawa bersamamu,
Dan merasakan hangatnya hadirmu,
Mengapa kau hanya samar,
Hanya ada dalam mimpiku,
Aku hanya ingin dirimu,
Bukan jejak yang tersisa.
-
Jejak yang Hilang
Dari manakah jejak ini bersembunyi,
Saat angin berbisik lembut,
Hanya tak kusadari,
Aromamu masih tertinggal di relung hati.Dua dekade kukira cukup untuk melupakan,
Jarak yang seharusnya memisahkan,
Namun justru tergerus oleh waktu,
Yang rakus menelan rasa pilu.
-
Sebuah Perpisahan
Tinggalkanlah jejakmu
Di antara dedaunan yang gugur
Aku takut
Semakin kau mendekat
Semakin dalam luka ini
Dan saat itu
Aku tahu, akulah yang akan merobek hatimu
Jangan tanyakan tentang rasa ini
Karena kau sudah merasakannya
Dan aku takkan bisa menutupinya
Biarkan cinta ini hanya bersemi dalam diam
Kan kutulis dalam catatan malamku
Biarkan cinta ini menjadi rahasia
Antara kita yang terpisah
Maafkan aku jika harus pergi
Biarlah aku yang mundur
Menyerahkanmu pada pelindung yang lebih kuat
Karena aku takkan pernah bisa
Meski kau tahu, cintaku padamu tulus
Jangan pernah membalasnya
Jangan pernah mencintaiku
Karena aku memang tak layak
Akan selalu ada rasa ini
Meski takkan pernah bisa kuungkapkan
-
Hening di Antara Kita
senyummu terlukis
di antara riuh
inilah detak jantung kita
yang tak pernah pudar
meski terhempas
gelombang dari lautan harapan
-
Rindu dalam embun
Di sinilah aku menanti pagi,
Yang menebar harap di antara embun,
Pada desiran dedaunan yang berbisik,
Segera datang menembus batas jendela demi sebuah hangat
…
