Bukan berarti aku tak ingin atau gentar melangkah.
namun aku tak ingin lagi mendengar suaramu terisak.
ketika perpisahan itu tiba.
bukankah angin berbisik, dedaunan menari pelan?
justru dingin tak mau pergi, merayap di ujung harimu.
cobalah kau ingat kembali pesan yang ku titipkan.
aku di sini menanti harapan ingin sekali menemuimu malam ini,
tetapi ku tahan lagi.
meski kerinduan ini telah bersekutu dengan kenangan-kenangan manis.
aku harus bersabar mengulang mimpi yang tak berujung.
sekali-sekali ku lihat kamu dari balik tirai yang sedikit terbuka.
namun kau takkan pernah tahu itu.
biar aku sendiri menanti…
Tag Puisi: kenangan yang menyakitkan
-
Menanti di Ujung Senja
-
Sisa Angin
angin malam berbisik lembut
menggugurkan harapan yang tersisa
ku tatap bintang yang kini redup
ku dengar suara angin yang berkeluh kesah
ia merindu
merindu akan segala cerita
yang menggores jiwa
demi ia, ia yang tak mendengar
suara hati yang kini merintih
rindu yang kini berhembus
membawa kembali
kembali pada saat-saat indah
rindu yang datang dengan setiap desah
kenangan yang pernah terukir
kini terbang
membawa semua cerita itu pergi jauh
yang membuat ku kembali terdiam
terdiam dengan rindu yang menyentuh jiwa
kini semua seakan hampa
kini sepi pun menenggelamkan segala harapan
tak lagi ada harapku seperti cerita lalu
cerita bersamamu yang kini hanya menyisakan rindu
-
Lagu di Antara Ombak
ombak malam menyapu kenangan
tersembunyi dalam relung hatiku yang bergetar
beberapa bait kembali seperti pasir
mengalir di aliran darahku yang berapi
kemudian memudar menyesapi getir
akan ketidakpahaman cinta yang tak terucap
oleh jiwa-jiwa setelahmu
jangan kau kira ada yang sebanding
dalam hal mencintai
tidak pula dengan embun pagi yang abadi
air mata akan menuntunku
kembali menelusuri gelap pikiran
setelah kepergianmu
untuk menemukanmu kembali
terdiam menanti cahaya
yang akan memancarkanmu
menjadi bulan dan kilau bintang
menyatu dan menjadi harmoni
atau rasa yang manis
di atas samudera tenang yang memantulkan
cahaya-cahaya bintang di langit selatan dan
akan kukembalikan kau ke sana
seperti Orion secerah-cerahnya.
-
Menanti Suara Angin
Bagaimana bisa ku dengar angin
Saat telingaku hanya mendengar namamu
Bagaimana dapat ku rasakan cahaya
Saat sinar rembulan hanya mengingatkan padamu
Bagiku angin selalu berbisik
Entah di puncak gunung, antara dedaunan, malam
Selalu berbisik, hanya bagaimana
Bagaimana bisa ku mengerti
Jika aku hanya tahu nada yang kita ciptakan
Konyol memang, seribu bintang akan bersinar
Tapi satu yang pasti
Hanya suaramu yang ku nantikan
-
Gema Dalam Hening
Kusambut pagi…
Melihat embun menari
Menyapa dedaunan yang segar
Biru, hijau, kuning berkilau di pelataran
Tak ingin ku berpaling dari bayangmu
Sang sinar harapan…
Sekilas,…
Muncul dalam ingatan kita yang pernah bersatu
Begitu cerahnya,
Senyum yang dulu menghangatkan hati,
Kini entah kemana…
Pelukan hangat tak lagi terasa
Genggaman tanganmu tak lagi ku rasakan
Bahkan,…
Bahu yang dulu jadi sandaran
Kini sirna tanpa jejak
Teringat wajah ceriamu
Tak sadar awan kelabu meneteskan air mata
Dengarkan gema hatiku
‘Aku merindukanmu’
Kembalilah…
Dengarkan gema hatiku yang memanggil namamu
Meski ku panggil dalam sepi
Dengarkanlah!
