Di sore yang tenang di bulan yang cerah;
Angin berbisik lembut menyapu dedaunan;
Di antara ranting, seorang penyair termenung;
Menciptakan bait-bait tentang kehilangan dan harapan:
Wahai kenangan senja yang tak terlupa;
Mengapa kau kembali saat cahaya mulai pudar?
Wahai irama angin yang mengalun lembut;
Kembali kau hadir dalam hening yang mendalam;
Suara lembut yang pernah mengisi ruang;
Mengapa tak sirna bersama cahaya yang redup?
Apakah aku terjebak dalam lingkaran yang sama?
Penuh bayang, memudar namun tak pernah hilang;
Tahun demi tahun berlalu bersama senja;
Namun mengapa kesunyian tak pernah pergi?
Walau kesedihan menolak segala keindahan;
Yang tak kunjung berubah menjadi sebuah cerita;
Yang menolak segala bentuk pengulangan;
Apakah kekosongan adalah bagian dari takdir
Yang selamanya akan terus berbicara dalam heningnya?
Mengapa masih aku mengaku yang tertekan;
Jika badai tak mampu menghapus;
Segala hembusan rasa yang pernah ada?
Jika segala ketakutan masih terukir dalam jiwa;
Mengapa pernah kau tinggalkan jejak kita?
Perlahan kata-kata itu meresap ke dalam hati;
Sebisa mungkin pena tak mampu menangkap;
Segala makna yang tersirat dalam sajaknya;
Bila kepergianmu adalah kesunyian dari hidup;
Ajarkanlah aku berdamai dengan segala prasangka;
Yang datang bersama angin di kala senja.
Suaraku di Angkasa
Setiap detik namamu terucap, Di antara 7 bintang yang berkelip,…

Leave a Reply