Kekasihku,
masihkah kau ingat
saat kita berdua di bawah hujan?
Bersenda gurau
berlindung tawa
menyusun kenangan dan kehangatan
Saat itu ingin ku cium pipimu
ingin ku peluk erat tubuhmu
dan saat itulah setetes air jatuh di wajahku..
Klepot…!
anjrit…!!!!
sejak saat itu aku kapok berduaan di bawah hujan
Tag Puisi: kenangan yang tak terlupakan
-
Di Bawah Hujan
-
Jejak di Pasir
Di pantai selalu ada kerinduan
Yang tertinggal pada jejak langkah
Dan aku mulai resah
Karena ombak tak ingin berhenti
Di pantai selalu ada harapan
Saat aku menunggu senja
Hingga aku terlelap
Sebelum dapat menemui
Di pantai selalu ada kisah
Ketika tangan saling menggenggam
Dan jiwa saling mengagumi
Di pantai tak pernah ada akhir
-
Jejak Langit Senja
Kujelajahi jejak waktu
kuputar cerita yang terukir
menghadirkan kembali saat itu
saat-saat langit senja
Walau terhempas angin
potret senyummu melintas
seketika teringat sosokmu
sosok sahabat langit senja
-
Cahaya Senja
Dua cahaya senja adalah sinar yang hangat
Dua cahaya senja berbicara dalam bisu yang dalam.
Rindu bukanlah hanya milik malam yang kelam
Keduanya sama paham, keduanya takkan surut.
Dua cahaya senja terbenam di langit yang cerah
Keindahan tanpa hiasan, tanpa gemerlap.
Dua cahaya senja adalah pelabuhan yang tenang
Secangkir teh di sore hari dan cerita yang terpendam.
-
Sisa Senja
di sore ini kata-kata yang mulai pudar
tergeletak di hatiku
saat jejakmu yang pernah menghangatkan
kembali hadir dibalut hening waktu
perhatikan embun pagi yang mulai membeku
dan bait-bait yang perlahan sirna
terpotong tajam ujung harapan yang saling melukai
begitu sakit, begitu getir
menjadi pejuang yang semakin tak terhentikan
adakah satu malam saja
bersedia menjadi pelindung
untuk kita menyatu
dan melangkah meski begitu lambat
dan tak akan lagi ada jarak.
-
Bulan yang Menggenggam Rindu
setiap bintang yang berkelip menyimpan cerita yang takkan pudar saat malam menjelma.
seperti malam ini, bulan di langitmu kembali menari di atas bayang-bayang yang kita ukir dan setiap jalan setapak akan mengalirkan ingatan yang pernah kita lalui saat aku melangkah sambil mengingat detik-detik indah kita bersama tawa yang menyatu dalam waktu.
lagu yang merindukanmu seperti pasir yang terhempas ombak dan mengalir lalu membawaku kembali ke pantai, tempat seharusnya kita berbisik menuju cakrawala.
duhai bintang malam, hatiku yang kini tak lagi utuh tak ingin dipandang iba sebab menantimu untuk sejenak cukup menjadi bara bagaimana caraku ingin merangkul kenangan itu.
tunggulah malam ini, dengan sehelai kain, akan kutenun ungu dari jiwaku yang terkurung dalam kerinduan akan keberadaanmu.
dan jika aku bertemu lagi denganmu yang kini serupa ilusi, maka akan kutuntaskan rasa ini dengan memintamu jangan pergi, untuk sekali saja.
-
Jejak di Pasir
di tengah hening angin berbisik
entah mengapa jejakmu selalu mengikutiku
meski aku tahu akan mengguncang kembali rasa itu
namun tak bisa ku tutup mata
jiwaku tak ingin menghapus setiap kenangan
pikiran ini bergetar mencari harapan untuk kembali
dan hatiku ingin menggenggammu lagi
semoga masih ada ruang untuk kita berbicara
mengurai simpul yang pernah mengikat
-
Rindu di Tengah Gemuruh
Aku mungkin hanya bisa menyusun bait-bait sunyi
Yang mengingatkanku pada langkah kita yang terhenti
Juga semua nada yang pernah kita nyanyikan bersama
Yang memaksaku untuk terus merindukanmu
Mengapa mencintaimu begitu membingungkan?
Sementara di luar sana orang-orang sibuk berdebat tentang bintang baru,
menemukan inovasi atas rahasia alam semesta,
atau teknologi yang terus melesat.
Sedang aku masih terperangkap dalam kenangan lama, luka yang tak kunjung sirna
Ada benarnya juga
apa yang selalu kita diskusikan selama ini
Mengapa kita harus berjumpa,
mengapa pula kita harus terpisah
Hidupmu melangkah menjauh dari hidupku
dan hidupku melangkah menjauh dari diriku sendiri.
Bisakah aku memandangmu dengan kebencian?
Dengan dendam?
Kau bilang itu cinta,
itulah cinta yang bersinar di mataku,
saat itu adalah luka bagiku.
-
Senyum di Ujung Malam
Di sudut ruang yang sepi ini
aku menemukanmu terdiam
bukan dalam lamunan atau khayalan
seperti biasa, kau duduk di kursi kayu tua
membungkus diri dalam selimut malam
sambil menatap langit yang kelamada secangkir kopi dingin di meja
aku ambil dan hirup aroma pahitnya
terbayang cerita-cerita yang kau ukir
tentang kita dan canda tawa yang mengalir
sekali kau tersenyum dan seribu kenangan
berputar dalam benak, menari-naridi antara bintang-bintang yang redup
masih ada harapan yang kau simpan
menunggu saatnya untuk bersinar
seperti embun pagi yang tak kunjung datang
masih setia menanti, menunggu
satu senyum yang ingin kau bagi.
-
Ketika Senja Berbisik
Aku tak lagi tahu cara menulis rasa
pada selembar kertas
yang kau titipkan dengan janji yang samar
pasti dan pelan
terhenti di sudut harapan
kau ubah menjadi embun
yang tak terukur
dengan riuh yang tak lebih gaduh
dari sepi yang kau bawa
bersama waktu yang kelabu
atau cahaya lilin yang mulai redup
menjadi sunyi yang di tepi mana aku berdiri
tak jua aku mampu mengerti.
Mungkin kau ingin pergi
atau sekedar menjauh sejenak
bahkan tak peduli terhadap jeritan hatiku
yang merintih dan terhidang
bagai sajian di meja sebuah desa yang sunyi
desa yang kerlip bintang-bintangnya
pernah kita anggap sebagai tanda
bahwa luka yang dalam mesti dibalut
dengan suara yang lebih lembut dari embun.
Kembalilah, aku hanya akan menanti
sendiri yang dulu pernah menemani
hanya berbeda kali ini
ada cerita yang tak ingin kutoreh
dengan jujur yang tersembunyi
sedang kau tak jua mengenali.
Biarkan kupejam mataku yang lelah
dimana air mata menetes darinya lalu mengalir
di tengah kabut pagi yang menyelimuti
pada jendela kayu lalu memilih untuk pergi
saat mentari mulai bersinar.
Kekasih, mungkin kau lupa satu hal;
bahwa pilihanku tak pernah keliru
memilih peran dalam kisah yang terukir
bagi siapa saja yang ingin mendengar
katup bibirku yang basah merah
menggema rasa yang tak pernah kuabaikan.
-
Sangkar Angin
Sangkar angin dari dedaunan
Cahaya temaram dalam kerinduan
Kujelajahi jalan setapak berliku
Di antara bayang-bayang waktu
Tenda kudirikan saat senja merunduk
Di pagi hari, terbang tak tentu
Sangkar angin dari dedaunan
Di sini aku berkeluarga dan bercita
Rasa ini takkan pudar, meski datangnya lambat
Aku tak lagi mengejar malam
Biar terucap kata-kata manis embun
Jika menanti yang satu
-
Menyusuri Jejak yang Hilang
Biarkan kenangan berlayar di lautan tanpa batas
karena harapan, taruhan terukir dalam pilihan
-
Jejak yang Terukir
Di antara derai hujan yang merintik,
Ku telusuri jejak langkah kita.
Menyusuri lorong-lorong kenangan,
Di mana tawa dan air mata bersatu.Takkan pudar meski waktu berlari,
Kisah kita terukir dalam hati.
Bayangmu hadir di setiap detik,
Sahabatku, cahaya dalam gelap.Seketika, suara tawamu menggema,
Membawa hangat di tengah dingin.
Kau adalah bintang di malam sunyi,
Menemani perjalanan hidupku.
-
Di Ujung Senja
Hari ini terasa kelam,
Malam menjemputku,
Kupu-kupu berterbangan,
Seperti harapan yang terbang jauh,
Apa yang bisa kulakukan,
Sungguh sangat menyedihkan,
Ya, sangat menyedihkan,
Apalagi kita terpisah waktu,
Hanya doa yang bisa kupersembahkan,
Untuk kebahagiaanmu.
-
Anak Angin
di tengah angin,
adakah pelabuhan kecil
yang bisa disinggahi
sejenak untuk bernaung, hanya sekejap
bagi anak jiwaku yang menggigil,
yang ditinggal ayahnya?bisa kau lihat senyumnya yang tulus
cahaya wajahnya yang hangat dan ceria
atau bisa kau dengar sendiri
suara tawanya yang menawan
atau kau juga bisa merasakan
keheningan angin yang menyentuh kulitnyamenggugah rasa di langit puisi
lalu berhenti sejenak
angin memandangnya dengan penuh kasih,
bahwa ia hanya ingin pelabuhan kecil
untuknya bernaung, yang sederhana sajatapi tak ada, ia masih terlampau muda
jika harus menanggung beban pada hati dan bahunya
yang kecil, yang rapuh, dan yang tak terlindung
lalu angin berbisik dan berkata,
bernaunglah padaku anak jiwa
di pelukanku yang dipenuhi harapan.
-
Langit yang Bergetar
Minggu pagi, embun menari,
berpadu dengan angin, dan bintang-bintang beristirahat,
awan menutupi kita dalam kenangan yang tak terlupakan,
namun segala sesuatu mulai bergejolak,
hidup menjadi tantangan yang tak terduga,
dan aku tetap berdiam,
melangkah dan pergi,
bahwa suatu hari nanti,
langit ini kan membawaku kembali padamu,
bahwa suatu hari nanti,
aku akan terus memelukmu,
-
Lautan Kenangan
Laut ini menyimpan jejak langkah,
pertemuan pertama,
saudara sejatiku,
ombak-ombak harapanku,
dan dirimu.
-
Aku dan embun
Jalan ini berkilau,
berselimut embun pagi.
Namun aku, sepi,
Kering oleh harapan.
Butiran ini menutup jejak langkah,
Namun cintamu abadi dalam ingatan.
-
Jejak di Pasir
Di tengah padang yang berdebu
Angin berbisik pada setiap langkah
Kau datang membawaku cahaya
Saat bayang-bayang kesedihan menari di atas kerinduan
Kau hadirkan harapan yang cerah
Saat aku terjebak dalam sunyi yang membelenggu
Takkan pernah ku lupakan
Saat kau menuntunku ke arah terang
Saat tawamu menjadi satu-satunya pelipur laraku
Tempat Kenangan Terukir Abadi
Aku memang bukan penutur kisah yang ulung
Apalagi memberi makna pada setiap detik yang berlalu
Tapi …
Tak lepas statusku menjadi tempat kenangan terukir
Walau sering kali terabaikan
Datang hanya saat dibutuhkan
Tapi itu tak mengapa bagiku
Terima kasih sahabatku
Kalian masih menganggapku ada
-
Jejak yang Tak Terhapus
aku ingin kau mengerti,
engkau adalah cahaya dalam gelap,
setiap detik penuh kasih sayang,
selalu ingin memberi arti,
segala yang kau lakukan,
menemani langkahku,
dalam suka dan duka,
seberapa jauh rasa pedulimu,
hingga saat ini kau tetap bersamaku,
melindungiku,
meski hidupku telah berkeluarga,
engkau tak pernah pergi,
namun bagaimana kelak,
ketika kau tiada,
semua akan berantakan,
tersebar tanpa arah,
dan hampa,
aku tak ingin membayangkannya,
meski tak terucap,
aku sangat menghargai,
segala pengorbananmu,
memiliki sosok sepertimu,
itu adalah anugerah.
-
Hadiah di Ujung Musim
Di tengah hening malam
perempuan yang kau sebut bintang
berjuang melawan waktu
pada detik yang tak pernah kembali
lebih dari dua puluh tahun silam
kurang satu musim lagi,
dalam usiamu yang ke-24 ini
aku persembahkan kasih terbungkus harapan
