mungkin kita berdua keliru,,
soal perjalanan ini,,
soal rasa yang terpendam,,
soal kita yang terpisah,,
kenapa aku menyayangimu,,
lalu apa lagi,,
terus kamu pergi menjauh,,
dari sini,,
sungguh tak pernah terbayang,,
hingga malam menutup hariku dengan dinginnya,,
padahal aku ingin kau ada di sampingku selamanya
Tag Puisi: kerinduan yang mendalam
-
Benarkah Kita
-
Gema Dalam Hening
Kusambut pagi…
Melihat embun menari
Menyapa dedaunan yang segar
Biru, hijau, kuning berkilau di pelataran
Tak ingin ku berpaling dari bayangmu
Sang sinar harapan…
Sekilas,…
Muncul dalam ingatan kita yang pernah bersatu
Begitu cerahnya,
Senyum yang dulu menghangatkan hati,
Kini entah kemana…
Pelukan hangat tak lagi terasa
Genggaman tanganmu tak lagi ku rasakan
Bahkan,…
Bahu yang dulu jadi sandaran
Kini sirna tanpa jejak
Teringat wajah ceriamu
Tak sadar awan kelabu meneteskan air mata
Dengarkan gema hatiku
‘Aku merindukanmu’
Kembalilah…
Dengarkan gema hatiku yang memanggil namamu
Meski ku panggil dalam sepi
Dengarkanlah!
-
Rindu dalam Hujan
Cinta kita dimulai di bawah hujan,
Dan tumbuh subur di antara air mata dan tawa.
Jika kerinduan adalah sebuah badai,
Mengapa aku masih rela terjebak dalam derasnya…Bukan,
Bukan aku yang memilih jalan ini,
Melainkan jiwa ini yang terjerat oleh rasa padamu.
Mengapa, meski kegelisahan menyelimuti hati,
Yang menyesakkan dada,
Yang menimbulkan segudang tanya,
Menghimpun harapan yang tak terucap,
Hingga tak berdaya melawan arus rindu yang menghantam…
-
Simfoni Kesunyian
Kesunyian mulai menari di antara bintang,
Di langit malam yang kelam,
Apakah kau dengar suara angin?
Menggenggam harapan yang tak terucap?
Simfoni yang terjalin,
Mengalun di relung jiwa,
Mengubahnya menjadi debu,
Hingga sirna bersama waktu.
-
Ketika Hening Menyapa
Ketika hening menyapa
Tak lagi kudengar denting itu..
Saat mengurai rasa dalam bait
Saat jiwaku terbenam dalam lautan kata
Tak lagi kutemui jejak-jejak kasih dan indahnya kalimat yang merangkum rasa..
Semuanya perlahan sirna
Semuanya perlahan membeku dan pudar
Saat cahaya redup dan terputus jiwaku
Saat bisu lidah yang biasa penuh akan harmoni kata
Bait..
Bait..
Hilanglah tanpa jejak
Yang siangnya tak lagi cerah
Dan malam tak lagi bergetar
Mungkin bait itu masih di sana
Hanya tertutup hati yang lapuk
Atau mungkin bait itu telah lenyap
Ditelan raga yang sudah terlalu letih
Tak ada yang lebih pilu dari ini..
Penyair yang tak lagi mampu ungkapkan suara jiwa dengan bait rindunya
Seperti jiwa yang kosong tanpa nada
Seperti hati yang mulai redup
