daun-daun bergetar lembut di tiup angin.
Dari balik reruntuhan batu, bunga mekar
: serangga berdesir
warna-warni sayapnya, kupu-kupu menari di udara.
Kuingin hujan reda, kuingin embun pagi jatuh ke tanah,
karena sinar menyentuh bumi maka tumbuh subur.
Di bawah langit cerah berhiaskan pelangi.
Didera angin dingin tubuh-tubuh lelah: ilalang.
O, Beringin yang menjulang tinggi, cabik langit kelabu.
Tak peduli akarnya terendam air, tegak berdiri.
Sang bulan menutup diri
: kesunyian datang berbisik
hamparan bukit mengapit aliran sungai,
bersemayam telaga biru temani sang bintang.
Di atas gelombang cahayanya bergetar,
(kurasa) mereka saling memandang, atau
: mungkin saja terjebak rindu
aku, ingin seperti mereka: cemburu.
Tag Puisi: kerinduan yang mendalam
-
Senyum di Ujung Jalan
-
Dalam Hening Malam
Inilah caraku menahan ‘gelisah’ rindu bintang,
Dengan selalu mengingat sinar matamu yang cerah,
Walau ‘gelisah’ itu hadir saat kau memilih untuk terdiam, sementara jiwa ini terjerat rindu berulang kali…
Pernahkah di suatu malam,
Sebelum mimpi menyapa,
Aku melintas dalam pikiranmu,
Sebagai sosok yang dirindukan dalam hening,
Pernahkah…???
Saling menanti merindu dan tak pernah bersua, adakah kita seperti itu, puan? seperti dua kutub,
Siang dan malam…
Mungkin melodi ini bisa sejenak menenangkan rindu,
Saat jemari kita tak saling bersentuhan,
Desah lelaki rembulan…
-
Dalam Pelukan Angin
apa kabar, Ibu?
dalam bisikan malam yang sepi
seperti angin yang merayu dedaunan
membawa cerita tentang kerinduan
sering kali aku terjatuh, Ibu
namun kau selalu hadir dalam mimpi
menyirami jiwa yang kering dengan kasih
aku ingin berlari, Ibu
menuju pelukanmu yang hangat dan abadi
seperti embun pagi yang menyejukkan
air mata ini tak pernah berhenti
membasahi kenangan yang terpendam
untukmu, anakmu yang tersesat di dunia
aku ingin mendekat, Ibu
seperti bintang yang mencari bulan
dalam gelapnya malam yang tak berujung
namun kau menahan langkah ini dengan lembut
mengusap dahi ini yang penuh kerinduan
seraya berbisik, belum saatnya
kapan saat itu tiba, Ibu?
aku ingin menemanimu dalam perjalanan
yang dulu terhenti oleh waktu
yang dulu terabaikan oleh kesibukan,
duhai, Ibu.
-
Lima Senja
lima senja itu melintas
kerinduan membara,
impian dan asa sirna,
hilang ditelan waktu,
biarkan kau tak tahu,
diri ini terpuruk,
kelak kau pergi,
menuju arah tak pasti,nhingga suatu saat,
dalam lamunan hadir,
-
Kegelapan Senja
gelap menyelimuti jalan,
menyusuri jejak yang hilang,
dalam hening yang menggigit,
warna-warni sirna,
tak ada lagi tawa anak-anak,
dan tak ada lagi sorak-sorai,
semua terbenam,ndalam kesunyian,
mungkin aku mulai meragu,
dengan semua yang tersisa,
mungkin kamu akan pergi menjauh,
hingga aku terpuruk tanpa arah
-
Senyap di Ujung Jalan
Langkahmu menjauh, kami terdiam,
seakan waktu membeku di antara kita.
Yang tersisa hanyalah suara angin,
menyapu kenangan yang tak terucap.Kehilangan ini seperti malam tanpa bintang,
gelap yang menyesakkan dada,
meninggalkan jejak di hati,
yang takkan pernah pudar.Ibu,
setiap detik kami menunggu,
berharap bayangmu kembali,
dan jangan pernah berpikir,
untuk pergi lagi dari pelukan kami.
-
MENYISAKAN KENANGAN
Hari-hari berlalu Tanpa jejakmu di sini
Apakah kau tahu Betapa dalamnya rasa ini?
Suaramu yang hanya terbayang
Membuat kerinduan ini semakin membara
Aku selalu mengingatmu
Namun, apakah kau pernah teringat padaku?
Kasih, di manakah kau kini?
Apakah hatimu merindukanku?
Atau kau telah melupakan janji kita?
Maafkan aku, kasih
Ku harus pergi menyingkirkan rasa ini
Kau telah pergi jauh dari harapan
Dan kini, aku pun harus melangkah pergi
-
Menanti di Ujung Senja
Bukan berarti aku tak ingin atau gentar melangkah.
namun aku tak ingin lagi mendengar suaramu terisak.
ketika perpisahan itu tiba.
bukankah angin berbisik, dedaunan menari pelan?
justru dingin tak mau pergi, merayap di ujung harimu.
cobalah kau ingat kembali pesan yang ku titipkan.
aku di sini menanti harapan ingin sekali menemuimu malam ini,
tetapi ku tahan lagi.
meski kerinduan ini telah bersekutu dengan kenangan-kenangan manis.
aku harus bersabar mengulang mimpi yang tak berujung.
sekali-sekali ku lihat kamu dari balik tirai yang sedikit terbuka.
namun kau takkan pernah tahu itu.
biar aku sendiri menanti…
-
Hening Dalam Keramaian
Di tengah keramaian..Jiwaku merindukan pelukan hangat.
Selalu berharap ada yang mengerti,
Di antara tawa yang menggema,
Ada rasa sepi yang tak terungkap.Kadang rasa iri menyergap,
Melihat pasangan yang saling berbagi,
Seperti bintang yang bersinar,
Sementara aku terjebak dalam bayang.Pertanyaan ini datang mengganggu,
Kapan aku bisa merasakan cinta itu?
Sebuah kejujuran yang tak terelakkan,
Dalam kalimat sederhana..”AKU SENDIRI”.
-
Langit dan Laut yang Bergetar
aku tak pernah tahu
kapan gelombang itu datang,
seperti setiap jiwa yang bertanya;
kapan embun pagi menari di daun?
aku hanya tahu satu hal yang pasti
bahwa aku seharusnya bisa
membangun jembatan dan menyerahkan
satu tali padamu,
dan kita akan melangkah
dalam setiap hembusan angin
yang akan kita ukir
dengan nada kerinduan.
-
Jejak yang Hilang
Di tengah malam ini, aku terjaga menantimu,
Di antara bintang-bintang, aku terperangkap dalam harap,
Di antara bayang bulan, aku menanti sinarmu,
Mengapa kau tak juga muncul,
Hingga aku bisa tertawa bersamamu,
Dan merasakan hangatnya hadirmu,
Mengapa kau hanya samar,
Hanya ada dalam mimpiku,
Aku hanya ingin dirimu,
Bukan jejak yang tersisa.
-
Suara dalam hening
Di tengah malam yang sunyi,
Aku tak gentar oleh bayang-bayang,
Bukan karena rasa sepi yang menyiksa,
Atau hampa yang membelenggu jiwa.Ada kerinduan yang menggelora,
Namun bukan sekadar harapan kosong,
Sebuah cahaya dalam gelap,
Menanti di ujung jalan yang panjang.
-
Di Ujung Senja
Saat cahaya mulai pudar
Aku terjebak
Antara detak jantung dan harapan
Tak mampu lidah ini bergetar
Kerinduan padamu
Kerinduan akan kisah kita
Yang penuh
senyuman hangat
lewat bait ini
ku rangkai nada
lewat syair ini
sebagai tanda rindu yang tak tertahan lagi
-
Genggaman di Tengah Hujan
ingin kupegang erat jemarimu,
hingga air itu mungkin berhenti,
mungkin aku juga masih merasa,
ingin selalu menggenggam segala yang kau miliki,
aku sendiri tak mengerti,
dan tak bisa kujelaskan mengapa,
mungkin ini sifat manusia,
yang selalu lapar akan kasih sayang,
aku ingin berhenti,
tapi itu melawan jiwaku,
semoga Sang Pencipta mendengar,
Amin
-
Di Ujung Senja
Jangan kau tanya tentang pelabuhanku, karena telah ku titipkan di hatimu..
Jangan kau tanya siapa diriku, karena namaku sirna saat kau hadir.
Aku mencintaimu..
Maka berapa banyak waktu harus ku habiskan agar bisa merasakan cintamu.
Berapa malam yang ku lalui agar bisa melihatmu dalam mimpi?
Berapa tahun ku harus memanggil namamu agar kau mendengar detak jantungku?
Berapa tahun ku harus merintih agar kau tahu betapa dalamnya lukaku?
Mengapa langkahku dan langkahmu seperti terjalin tak terpisahkan..
dan mengapa kau selalu ada dalam setiap hembusan angin?
Barangkali manusia bisa menghapus jejak yang telah tertinggal..
namun ia takkan pernah bisa menghapus rasa yang terpatri di jiwa.
-
Dalam Hening Senja
Dalam hening senja;
Kau menjadi embun yang menetes
Di atas daun-daun yang merindu
Menghadapi angin yang tak berujung
Yang setia menyimpan kisah-kisah kita
Yang tak pernah berhenti bergetar di relung hati
Aku mencintaimu, hingga cahaya purnama
Itu sebabnya, aku terus mengukir harapan untukmu
-
Jejak di Pasir
Angin berbisik, ke mana langkahmu melangkah?,
Tak seperti biasanya, suara hati ini terdiam,
Rindu yang tak terucap, menggelitik jiwa,
Dialog sunyi antara aku dan bayang-bayang harapan.Tak ada lagi gema senyummu yang menyapa,
Atau tawa ceria yang menari di telinga,
Tak ada lagi hangatnya pelukanmu,
Pagi ini sepi tanpa cahaya matamu yang biasa menyinari,
Kepada siapa akan kupersembahkan rasa,
Pada bintang-bintang jauh yang hanya bisa berkelip dan menghilang?
-
Sisa Rindu di Hutan
Di bawah sinar rembulan yang pudar …
Kehangatan kenangan terbang bersama embun pagi …
Adakah jiwa yang mendengar derai langkahku
Menggapai harapan yang terpendam …
Entah, biarkan angin berbisik pada dedaunan,
Menjadi saksi saat bintang-bintang menari
Mendekatiku di sini …
Hanya padamu, kasihku terukir …
-
Menyusuri Jejak Hampa
apakah ada yang perlu dipertahankan
dari sebuah sunyi?
berjuang tanpa rasa
atau hanya ada sejuk yang terpendam?
bagaimana jika jiwaku lebih merindu
hembusan dari perjalanan yang tak terungkap
hanya untuk memastikan bahwa kita masih ada
lalu berjanji untuk bertemu
di sebuah pagi dan saling mengucapkan rindu?
-
Dalam hening
Bagaimana mungkin kutuliskan sajak tentang cahaya bulan,
Jika hingga kini kau masih mengisi jiwa ini dengan seribu harap…
Angin yang berbisik lembut selalu membawa kabar dari jauh, bagaimana denganmu ‘cinta’,
Adakah pesan untukku dari getaran hatimu…Bila kau mau,
Bisakah kita berdua saling mendengar,
Meskipun kita berdua terdiam…
Dalam hening kuingin bersamamu seperti bintang yang menanti malam menjadi terang.
-
Menanti Suara Angin
Bagaimana bisa ku dengar angin
Saat telingaku hanya mendengar namamu
Bagaimana dapat ku rasakan cahaya
Saat sinar rembulan hanya mengingatkan padamu
Bagiku angin selalu berbisik
Entah di puncak gunung, antara dedaunan, malam
Selalu berbisik, hanya bagaimana
Bagaimana bisa ku mengerti
Jika aku hanya tahu nada yang kita ciptakan
Konyol memang, seribu bintang akan bersinar
Tapi satu yang pasti
Hanya suaramu yang ku nantikan
