Di balik kaca yang berembun, kulihat diriku
menyeka uap dengan tangan gemetar,
macet panjang menahan napas kita
kursi tunggu di puskesmas, ingatkah?
menunggu jawaban yang tak pernah datang.
Khawatir, tapi tak ingin tampak rapuh
kita berbicara kepada masa lalu,
seperti hujan yang jatuh berulang,
kata-kata yang nyaris salah eja,
menari di antara keraguan dan harap.
Di jalan yang tak bergerak, kita berdiam
menyeka uap, menyeka kenangan,
menemukan arti di balik kehilangan,
saat kursi tunggu itu kembali hadir,
dan kita belajar merelakan.

Leave a Reply