Di bus malam yang melaju, aku duduk tenang.
Lalu menyadari dompet tertinggal, tertinggal di kursi.
Suara mesin berderu, mengulang kisah yang sama.
Sendal jepit di dekat pintu, menanti langkah pulang.
Di luar jendela, bintang-bintang berkelip samar.
Ada jeda… dalam pikiran yang beriak.
Mengingat janji yang pernah terucap.
Sendal jepit itu, setia menanti.
Aku mengulang, mengulang langkah yang sama.
Malam menyelimuti, dingin menyusup perlahan.
Mesin terus berdengung, seperti mengejar waktu.
Aku terdiam… dalam kebisingan yang akrab.
Ada rindu yang tak terucap, tertinggal di antara kursi.
Janji-janji yang pernah terucap, kini samar.
Di antara deru mesin, suara hati berbisik.
Sendal jepit itu, tak pernah pergi jauh.
Langkah-langkah yang sama, mengulang cerita.
Malam semakin dalam, membalut segala rasa.
Di luar sana, bintang-bintang masih setia.
Ada jeda… di antara detik yang berlalu.
Mengingat janji yang pernah terucap, kini pudar.
Sendal jepit di dekat pintu, tetap menanti.
Aku mengulang, mengulang langkah yang tak berubah.
Malam menutup, seperti selimut yang akrab.
Mesin terus berputar, tidak berhenti.
Aku terdiam… dalam kebisingan yang menenangkan.
Ada kenangan yang tertinggal, di antara kursi.
Ternyata, tidak semua janji harus ditepati.