Di toko kain yang sepi, ibu memilih
dengan teliti, tangan menyentuh serat
yang tak berbisik apa-apa, kecuali
kejujuran. Jam dinding berhenti
di angka dua belas, waktu membeku
seperti perasaan yang enggan pergi.
Gengsi tersisa di antara lipatan kain,
seperti garis miring di antara dua dunia,
memisahkan kenyataan dan harapan.
Di sana, aku berdiri, menemani ibu
dalam kelelahan yang tak terlihat.
Cahaya menyelinap, menemukanku.

Leave a Reply