Butir embun menetes di dedaunan..
Diam-diam menyimpan rasa yang dalam..
Menyentuh hati yang terluka..
Keindahan hanya bayang-bayang yang samar..
Tag Puisi: perasaan yang terpendam
-
Embun Kesedihan
-
CINTA DI BALIK HARI
Cahaya, tadi embun seolah tak mau menari
embun mungkin lupa cara bersinar
Cahaya, tadi angin seakan enggan
mungkin dia lelah akan desah yang hampa
Cahaya, hariku hari ini tak berwarna
Tapi mungkin hidupku adalah puisi terindah
JIKA CAHAYA TETAP BERSINAR 🙂
-
Jejak di Pasir
Di tepi pantai yang sepi
Seorang pencari menatap ombak berlari
Ia sabar menunggu jejak yang samar
Namun kau keliru sahabat…
Jika mengira aku sekuat itu
Justru karena tak mampu menahan rasa
Aku selalu menumpahkannya di pasir yang basah
Dan sementara di langit
Waktu terus mengguratkan cerita tak berujung…
-
Cahaya di Ujung Jalan
Kau bagaikan embun di pagi hari,
menyusutkan hangatnya pelukan.
Kau bagaikan bintang di tengah badai,
dan aku hanya bisa menunggu.
-
Suara yang Terbenam
Gemuruh kini terdiam
di antara malam kelam
tak ada lagi pulau
yang di tengahnya ada api
bernama harapan.
setiap nada sepi
mencari si pendosa
agar berbisik dengan apa saja
tentang yang tak terungkap
oleh kata-kata.
dan saat kau mendengar ini
maaf, aku terjebak
-
Hening yang Terluka
Kadang seseorang memilih untuk tertawa,
Hanya agar tak perlu mengungkapkan kesedihan yang menganga…
Apakah kerinduan masih kau simpan,
Meski kau sembunyikan dalam-dalam atau kau tenggelamkan dalam lautan…
Tentangmu,
Adalah pagi yang selalu membawa harapan dan tentangku,
Hanyalah malam yang terjebak dalam sunyi…
Dan di dalam hatiku, puan,
Ada hutan pinus tempat kau tanam semua kerinduan,
Hingga rasa ini menunggu kau petik satu per satu…
Mungkin kesepian tercipta sebagai ruang hampa,
Tempat kerinduan datang saat senja,
Mungkinkah…
-
Jejak di Pasir
Maka, biarkan sejenak begini
Sebuah jejak yang tertinggal di pasir
Mungkin waktu ini perlu untuk menghapusnya
Karena sebenarnya aku telah akrab dengan hadirmu
Dan sesungguhnya ada kerinduan yang mulai terukir
Sebab kini, aku tak lagi mampu menipu rasa
…
-
Hujan di Ujung Jalan
Di sudut hati ini, awan menggantung kelabu
Yang beratnya lebih dalam dari lautan tak bertepi
Seuntai harap merayap di antara tetes air mata
Akankah kita bersinar seperti embun saat pagi menjelang
Hujan menyapa langkahku yang terhenti
Aku terdiam menatap jalan setapak yang berliku
Meski suara hati terbungkam menahan getir rasa
Namun jiwa ini masih saja berteriak penuh rindu!
Hujan, aku merindu…!!!
-
Seharusnya Berbeda
Seharusnya aku sedang menari bersamamu
merasakan irama hangat dalam langkah
menyatukan jiwa mengalirkan rasa
tapi semua tak kulakukan
karena sepatu mu berdebu sekali
kamu belum bersihkan yah???
Seharusnya aku sedang tersenyum padamu
menikmati ceria di wajahmu
seperti dalam film dan drama itu
Tapi semua tak kulakukan
karena ada noda di pipimu
Kamu belum cuci muka yah???
Seharusnya aku sedang menggenggam tanganmu
melepaskan getar-getar harapan
melepaskan rasa dan kerinduan
yang memacu jantung
tapi semua tak kulakukan,
Karena tanganmu dingin sekali
Kamu belum hangatkan yah???
-
Kau Embun Pagi, Kau Hujan Malam
Antara embun pagi dan hujan malam
kita selalu bertanya apa makna rasa
antara sahabat, cinta dan musuh
sering terbayang bentuk hubungan itu
kelabu dalam definisi yang samar
Sembilu terbenam dalam jiwa
tercapai mentaliti untuk memahami dunia
terbantu hasrat saat mengenal diri
lebih tepat, “menemukan diri”!
Bukan merendah bukan meninggi
aku mungkin segalanya hanya bukan sesiapa
cuma nama yang tak terucap
atas dasar panggilan semata
kadang terfikir
dimana harga diri yang kupegang selama ini?
Seterusnya ini membawa kepada kelayakan
antara aku, kau dan kita
sememangnya tak tercapai harapanmu
sebab itu aku samakan kau dengan embun pagi
sumber kesejukan yang hilang saat mentari
sebab itu aku samakan kau dengan hujan malam
membasahi jiwa yang merindu ketenangan
Kutafsir kau mudah
Kau embun berkilau
Kau hujan mengguyur
-
di antara bintang-bintang
Gelap menyelimuti malam,
Gemuruh angin berbisik dalam jiwaku.
Hangatnya terasa.
Kesunyian merangkulku erat.
Bersama sepasang bintang yang selalu mengawasi.
Sementara mereka tertawa riang di angkasa,
Bising… menyatu dalam derasnya rasa.
Rasa yang membuatku rapuh.
Sedang kau selalu bersinar lembut menatapku.
Cahaya-Mu menyimpan sejuta cerita.
Sinar yang selalu menggores dan melukai hatiku.
Jenuh rasanya…
Namun, terlalu lemah diri ini untuk melawan.
Beralih pun aku tak sanggup.
Kau terus menemaniku dalam setiap detak jantungku.
Pasrah.. ku bersimpuh dan bersujud di hadapan-Mu,
Dengan akal yang dangkal dan gersang…
-
Kedamaian Senja
Mentari yang meredup lembayung,
Meninggalkan jejak di ufuk jauh.
Berdiri di tepi pantai sepi,
Katanya ombak mengajak bicara;
Tapi biarlah sunyi,
Biarlah ku nikmati senja ini.
Aku ingin sendiri,
Menuliskanmu dalam angin.
Menghapus rasa yang menggelora,
Meski di luar gelombang tak henti.
Sudahlah, senja seperti harapan,
tak mungkin kembali ke malam lagi.
Dan aku terdiam
…
-
Jejak yang Hilang
Apakah kau pernah merasakan,
Hangatnya cahaya saat malam menanti,
Saat hanya bisa menggenggam angin,
Yang berbisik lembut di antara harapan,
Namun kerinduan takkan sirna…Apakah…
Mengisahkanmu adalah jejak,
Jejak ini adalah rasa,
Rasa yang mengikatku padamu,
Maka percayalah, sajak ini ada untukmu…
Rinduku terperangkap,
Di antara detak waktu yang tak berujung,
Dan di antara rasa yang terkurung…
-
Di Ujung Senja
Pernahkah kau mencari jejakku di antara bintang, seperti aku yang terjebak dalam harapan yang tak terucap, pernahkah rasa ini…
Dari balik kabut senja, aku mengukir rasa rindu dan di setiap detiknya, selalu ada harapan yang kutujukan untukmu, Selamat Malam puisi hatiku…
Tuhan, aku ingin kembali! namun langkahku terhenti di persimpangan yang sama, jalan yang selalu mengantarkanku ke dalam pelukanmu…
Adalah aku, yang selalu menuliskan kisahmu dalam bait-bait puisiku…
-
Aku dan Kesunyian Hati
Aku dan kesunyian hati
merasa jauh dari sinarmu
padahal kau begitu dekat dalam jiwa
beritahulah aku dengan segenap rasa
apa yang terpendam di dalam benakmu
bukan sekadar janji yang terucap
perhatikanlah aku dan kesunyian ini
menyimpan cinta dalam sepi
apakah hidupku hanya berisi kesedihan?
apakah hanya kesedihan yang mengisi hariku?
hanya ada kesedihan dalam hariku
apakah hidupku hanya kisah tentangmu?
apakah hanya kisah tentangmu yang menghuni jiwaku?
hanya ada kisah tentangmu dalam jiwaku
ambilah kesedihanku
sebagai teman dalam perjalananmu
biarkan diriku tenggelam dalam kesunyian
aku akan selalu mencintaimu
hingga akhir cerita hidupku
mintalah janji dengan sepenuh hati
maka akan kuberikan segenap jiwa ini
-
Hujan Kata
Bahasa ini mungkin tak sempurna,
namun lebih baik dari sepi,
meski jauh dari harapan kita,
namun cinta ini adalah kebenaran abadi.
Mencintaimu dengan sepenuh jiwa bersinar,
sebuah cerita di atas bantalku,
meski mimpi hanya terasa dingin,nterasing dalam hening yang kelabu.
Sebelum kau mengabaikanku,
pastikan kata-kataku tertata rapi.
-
Langit yang Terdiam
Semua berkumpul,,rapat,,dalam lingkaran,,
Menyiapkan harapan yang tersisa,,
Menyiapkan cerita yang terpendam,,,
Hingga suara angin berbisik,,
Semua tertegun,,menyaksikan malam ini,,
Pertunjukan ini,,,
Seperti bintang yang berkelip,,,
Aku tak mengerti pesonanya,,
Hingga semua sunyi,,tenang,,
Hanya aku yang terjaga,,
Mungkin aku bukan bagian dari ini,,
-
secangkir teh harapan
Hangatnya menantimu seperti teh melati,
yang tak pernah tahu kapan ia akan mekar,
seperti dirimu yang tak kunjung bisa kulupakan,
tapi hanya menyisakan rasa pahit tanpa manisnya.
Senyummu bagaikan gula yang larut,
menyembunyikan kepahitan dari teh melati,
tapi menipu rasa,
keaslian cinta yang kau janjikan.
Aku ingin dirimu seperti teh hijau,
yang pasti tahu kapan ia akan bersinar,
dengan suhu yang sejuk namun pasti,
matang dan menawan.
Aku sang peracik yang akan menyajikan secangkir teh,
peneman jiwa kita berdua,
bercerita tentang keselarasan,
menjadi secangkir teh peneman hati yang sepi.
-
Sisa Rindu
Di bawah langit kelam ini, suara angin berbisik,
Membuat jari-jariku bergetar ingin mengukir cerita,
Aliran rasa yang mengikuti denyut jantung,
Saat ia menari dalam kerinduan,
Coretan jiwa ini tak tertahan oleh kesedihan,
Bergetar tanpa henti,
Pikiran melayang dalam kesepian,
Di antara reruntuhan harapan yang terpendam,
‘Hai rasa yang mengganggu’ seruku,
Menanyakan apakah kau masih ada,
Namun tanpa jawaban, air mata menahan,
Emosi meluap melihat panggung kesedihan,
Aku terhenti di titik itu,
Lelah jiwa ini menulis cerita,
Takkan pernah menemukan cahaya,
Hanya menjadi debu di antara kenangan.
-
Jejak di Langit
keterasinganmu sering menghapus jejak
yang kutoreh dalam hening malam
mengalirkan setiap detak jantungku
saat mengingat senyummu yang kau ukir
pada langit biru dengan bintang terindah
yang selalu menyiram kisah yang kutanam dalam bait
kuakhiri sajakku bukan karena tak peka
menyimak keadaan, maaf, berita datang terlalu mendesak
menjadi alasan mengapa sinyal yang kutinggalkan
berakhir dengan terlalu nyata
menghangatkan setiap relung jiwa
menyudahi dirimu dalam ingatan
hadirlah dengan seribu pahlawan di sampingmu,
hadirlah dengan ribuan cahaya di balik pesonamu
dan takkan mundur aku dari para pejuang yang menyusup
pada setiap helaian rambut dan desah napasmu
akan kupadamkan kenangan yang kau gores
melalui embun pagi yang menetes di kedua matamu
yang sering membuat para pahlawan terjatuh di medan perang
dengan cepatnya panah yang akan membakar bumi;
dengan api dari jiwa yang tak pernah padam
dan betapapun aku tak diinginkan dunia,
dengan mahir, aku mampu memadamkan hasrat
meski masih serupa benih harapan cukup dengan seuntai cerita
tentang redupnya bulan sebagai tanda bahwa
selalu ada kekuatan untuk menghapus sajak-sajakku
bagi para dewi penghuni angkasa
maka, akan kuterima dengan tangan terbuka
dengan rasa yang paling lapang dalam dada
sumpah serapah seluruh umat manusia
karena akulah Ardalepa; pahlawan abadi
yang hanya akan mati karena keinginanku sendiri.
-
Hening yang Terlepas
Aku ingin terdiam sejenak,
Bukan karena aku lemah,
Bukan karena aku tak mengerti, yang konyol mengatasi rasa dengan keheningan!!!
Aku hanya ingin membiarkan sedikit derita ini,
agar ia mengalir bersama napas ku,
lalu sirna karena cahaya pagi,
dan kemudian……
LENYAP
