Kau adalah jejak yang terukir di pasir
Sedang aku hanyalah bayang yang tak terjamah
…
Kau melangkah jauh, meninggalkan jejak
Sementara aku terperangkap dalam sunyi
Tag Puisi: perpisahan yang menyakitkan
-
Jejak yang Hilang
-
Jejak di Pasir
langit senja beranjak
warna jingga memudar perlahan
aku mulai mengerti
ada yang hilang di hatimu
atau mungkin hanya khayalanku?
entahlah… hanya jiwamu yang bisa menjawab
kau boleh pergi dari ingatanku
melangkahlah…
tapi jangan biarkan harapanku terombang-ambing
ombak-ombak rindu menanti sentuhanmu
sambutlah dan lupakan aku
agar aku tak tersesat dalam kenangan
cinta ini akan selalu untukmu
-
Hujan di Tengah Malam
Hujan menari di atap
Seperti detak jantung yang bergetar
Rasa ini hancur berkeping-keping
Cinta yang hilang dalam kelam malam
Bahkan rintiknya deras
Mengguyur jiwa yang merana
Kapal-kapal harapan tenggelam
Orang-orang yang berlari tak berdaya
Hujan sedang merindu sayang
-
Hari yang Tak Terlupa
Akan datang hari yang tak terlupakan;
Saat embun pagi tak lagi menggoda;
Dan kita terdiam dalam heningnya;
Namun mampukah kita pergi tanpa kata selamat tinggal?Akan datang hari yang tak terlupakan;
Saat detik terasa melambat langkahnya;
Dan kita melangkah di jalan yang berbeda;
Namun mampukah kita berpura-pura tak merasakan perpisahan?Akan datang hari yang tak terlupakan;
Saat kesunyian menjadi sahabat setia;
Dan kita saling berkhayal di kejauhan;
Namun mampukah kita tak merindukan dalam kesendirian?
-
Jejak di Pasir
ombak berbisik
saat senja menanggalkan cahaya
menggugurkan harapan
dan menumbuhkan hikmah perjalanan
bagai kapal berlayar menjauh dari dermaga
ingin kutemukan kembali pulau yang sepi
sejak dingin memisahkan tawa dan kesedihan
tak pernah lagi kutapaki
jejak yang samar bagai desir;
menyerap air mata terakhir.
-
Pelabuhan Hati
Akulah pelabuhan,
Singgahlah, meski sejenak tak mengapa
Letakkanlah semua cerita di dekatku
Bersuaralah jika itu menenangkanmu
Mendekatlah, gulunglah sayapmu yang megah
Tancapkan jangkar di relung jiwaku
Hingga ikatan itu benar-benar menancap
Dan tak mampu kutolak rasa pedihnya
Jika semua telah usai, telah damai hatimu
Berlayarlah, sejauh aku tak lagi menatapmu
Tinggalkan, lupakan pelabuhan ini
Biarkan aku yang menjaganya
Hingga esok pagi, pelabuhan hanyalah tempat singgah
…
-
Malam yang Terbelah
Aku ingin membagi malam dalam dua sisi seperti halnya bintang berkelip membagi gelap dan bertanya.
Satu sisi lain penuh dengan cahaya fajar
Satu sisi lainnya tanpa sinar dan bisikan sunyi menanti di atas kanvas langit.
Aku membagiku dalam dua jiwa
Aku membaginya di tengah antara cahaya fajar dan dirimu.
Membaginya dengan jendela hati dan ribuan suara muda.
Kau tunjukkan jiwa puisi pada fajar untuk indah dinikmati
Dan jatuh tepat pada sisi malam yang lain.
Pagi ini akan terasa sepi, terjerat antara hiruk pikuk hari-hari di tahun.
Gugur, ia gugur seperti kelopak yang selama ini menjadi selimut ranting jatuh di atas tanah.
Akan kuberitahu pada semua ranting untuk bertahan di antara guguran
Dan lautan ketidaktahuan, menepi antara akar dan jati diri.
-
Jejak yang Hilang
Di tengah hutan sunyi malam ini,
apa angin juga merindukan langkah kita?
Atau hanya khayalku yang berkelana?
Aku pun ragu akan semua ini.Jiwamu yang melesat jauh menggores hatiku,
terlalu dalam untuk kuhadapi.
Menahan rasa yang telah terikat padanya,
dan takkan pernah kembali padaku.
-
Sisa Senja
di sore ini kata-kata yang mulai pudar
tergeletak di hatiku
saat jejakmu yang pernah menghangatkan
kembali hadir dibalut hening waktu
perhatikan embun pagi yang mulai membeku
dan bait-bait yang perlahan sirna
terpotong tajam ujung harapan yang saling melukai
begitu sakit, begitu getir
menjadi pejuang yang semakin tak terhentikan
adakah satu malam saja
bersedia menjadi pelindung
untuk kita menyatu
dan melangkah meski begitu lambat
dan tak akan lagi ada jarak.
-
Di Balik Hujan yang Redup
Di ujung jalan yang basah, aku terpaksa menerima
kekalahan yang tak pernah kuinginkan. Dulu, dia yang
ku beri warna dengan segala kekurangan, kini
melangkah jauh, menembus kabut yang pekat,
sebagai pengorbanan untuk hati yang telah rela
menyerahkan semua janji pada hujan yang tak kunjung reda.
Apakah ini tanda bahwa aku terikat pada
langit kelabu yang tak pernah memberi harapan?
Bahwa di setiap detak jantungku,
tersimpan serpihan kehilangan yang tak terhapus.Akankah semua benih kerinduan yang kutanam,
berubah menjadi semak duri yang merobek,
dengan setiap cabang yang merayap? Siapakah yang
lebih mengerti takdir yang berbisik,
memiliki bara dendam lebih menyala dari
api-api cinta yang telah padam? Musim apa
sekarang yang bisa kutunggu, sementara
setiap waktu menjauh dalam putaran yang tak pasti?Laguku, datanglah, aku butuh sentuhan
doamu untuk menyembuhkan luka-luka di dadaku,
yang setiap orang enggan menatapnya. Maafkan aku
karena tak pernah bisa melahirkanmu lagi,
sebab senar-senar jiwaku telah rapuh,
diterpa angin kepergian yang tak tahu kapan
akan kembali, meski hanya untuk sekali lagi
menguji dengan pisau tajam yang tersembunyi
di balik sayap yang pernah kuagungkan.
-
Rindu di Tengah Gemuruh
Aku mungkin hanya bisa menyusun bait-bait sunyi
Yang mengingatkanku pada langkah kita yang terhenti
Juga semua nada yang pernah kita nyanyikan bersama
Yang memaksaku untuk terus merindukanmu
Mengapa mencintaimu begitu membingungkan?
Sementara di luar sana orang-orang sibuk berdebat tentang bintang baru,
menemukan inovasi atas rahasia alam semesta,
atau teknologi yang terus melesat.
Sedang aku masih terperangkap dalam kenangan lama, luka yang tak kunjung sirna
Ada benarnya juga
apa yang selalu kita diskusikan selama ini
Mengapa kita harus berjumpa,
mengapa pula kita harus terpisah
Hidupmu melangkah menjauh dari hidupku
dan hidupku melangkah menjauh dari diriku sendiri.
Bisakah aku memandangmu dengan kebencian?
Dengan dendam?
Kau bilang itu cinta,
itulah cinta yang bersinar di mataku,
saat itu adalah luka bagiku.
-
Ketika Senja Berbisik
Aku tak lagi tahu cara menulis rasa
pada selembar kertas
yang kau titipkan dengan janji yang samar
pasti dan pelan
terhenti di sudut harapan
kau ubah menjadi embun
yang tak terukur
dengan riuh yang tak lebih gaduh
dari sepi yang kau bawa
bersama waktu yang kelabu
atau cahaya lilin yang mulai redup
menjadi sunyi yang di tepi mana aku berdiri
tak jua aku mampu mengerti.
Mungkin kau ingin pergi
atau sekedar menjauh sejenak
bahkan tak peduli terhadap jeritan hatiku
yang merintih dan terhidang
bagai sajian di meja sebuah desa yang sunyi
desa yang kerlip bintang-bintangnya
pernah kita anggap sebagai tanda
bahwa luka yang dalam mesti dibalut
dengan suara yang lebih lembut dari embun.
Kembalilah, aku hanya akan menanti
sendiri yang dulu pernah menemani
hanya berbeda kali ini
ada cerita yang tak ingin kutoreh
dengan jujur yang tersembunyi
sedang kau tak jua mengenali.
Biarkan kupejam mataku yang lelah
dimana air mata menetes darinya lalu mengalir
di tengah kabut pagi yang menyelimuti
pada jendela kayu lalu memilih untuk pergi
saat mentari mulai bersinar.
Kekasih, mungkin kau lupa satu hal;
bahwa pilihanku tak pernah keliru
memilih peran dalam kisah yang terukir
bagi siapa saja yang ingin mendengar
katup bibirku yang basah merah
menggema rasa yang tak pernah kuabaikan.
-
Embun Pagi yang Hilang
Tiada yang lebih menyejuk;
Selain desiran embun di pagi yang sepi;
Nada tetes harapan yang terpendam;
Menanti sinar mentari menyapa bumi;Tiada yang lebih menggoda;
Selain rasa embun di pagi yang hening;
Kesegaran alam yang membelai hatiku;
Menguatkan rasa rindu di sudut jiwa;Namun tiada yang lebih menyakitkan;
Selain kepergian di balik embun pagi;
Akar-akar kenangan yang terbenam dalam tanah;
Membiarkan cintaku terbang tak terjang di pagi yang hilang.
-
Kebahagiaan yang Terpendam
Kupikir kau telah pergi,
dan melupakan jejakku,
dan meremehkanku,
tapi ternyata masih ada,
api yang menyala,
tapi bukan untukku,
aku terjebak,
letih,,dan tak tahu jalan,
tapi nanti saat aku melangkah,
dan kau bersinar,
aku akan merasakan bahagia melihatmu,
-
Di Ujung Senja
Hari ini terasa kelam,
Malam menjemputku,
Kupu-kupu berterbangan,
Seperti harapan yang terbang jauh,
Apa yang bisa kulakukan,
Sungguh sangat menyedihkan,
Ya, sangat menyedihkan,
Apalagi kita terpisah waktu,
Hanya doa yang bisa kupersembahkan,
Untuk kebahagiaanmu.
-
Lima Senja
lima senja itu melintas
kerinduan membara,
impian dan asa sirna,
hilang ditelan waktu,
biarkan kau tak tahu,
diri ini terpuruk,
kelak kau pergi,
menuju arah tak pasti,nhingga suatu saat,
dalam lamunan hadir,
-
Api dalam Hujan
Aku terjebak dalam badai,
hingga tak kuperhatikan,
ada kilau berapi di matanya,
kemarahan yang menguasai langkahku,
membisikkan selamat tinggal dan dia pun pergi,
takkan pernah kembali,
namun selalu terpatri di jiwaku,
cinta ini menggores luka,
dia terlalu sering mengucap perpisahan,
hingga aku terdiam dalam kesunyian.
-
Kegelapan di Ujung Jalan
cahaya yang kau sembunyikan
segenap bayang kau hadirkan
hutan yang kau lupakan
hutan yang pernah kau hiasi
jiwa yang kau terasingkan
dari tawa yang tak terhapuskan
harapan yang kau padamkan
cita yang hancur dan keikhlasan.
-
jejak di pasir
Hening membisu…
Tak ada suara
Langit kelabu menutup harapan
Raga tergeletak tak berdaya
Raga terasing sendiri
Hanya jejak di pasir yang tersisa dan kenangan yang membayangi
Riuhnya dunia sirna
Tiada cahaya bintang malam
Kini terbenam dalam kelam selamanya
-
Melodi yang Hilang
Kau hadir di ujung malam yang kelam
Namun kau buat aku terjebak dalam sunyi yang sama
Saat tak lagi kau titipkan gitar di tanganku
Membuat ruang ini hampa dan sepi
Kelam dan dingin
Menghimpun rasa ini
Tak tahu harus berbuat apa
Karena tak bisa aku rasakan nada
Tak mampu pula mengucap kata yang utuh
Jenuh bila harus ku simpan lagu di relung hati
Karena sia-sia
Nada-nadanya tak mampu menghapus kenanganmu
-
Jejak yang Hilang
Dari manakah jejak ini bersembunyi,
Saat angin berbisik lembut,
Hanya tak kusadari,
Aromamu masih tertinggal di relung hati.Dua dekade kukira cukup untuk melupakan,
Jarak yang seharusnya memisahkan,
Namun justru tergerus oleh waktu,
Yang rakus menelan rasa pilu.
