puisi tentang menerima kehilangan
-
Closing the Laptop
The screen dims, a quiet sigh escapes,
fingers linger on the keys,
unfinished thoughts whisper,
like echoes in the hollow room.
Shoes rest on the terrace rack,
worn soles speak of journeys halted,
and I pause, listening to silence.Outside, the evening air breathes cool,
carrying remnants of unsaid words,
the soft rustle of leaves,
…
-
Faded Shop Signs
In the corridor, silence stretches thin,
as the clock ticks its quiet rhythm.
The air holds the scent of waiting,
like a forgotten book on a dusty shelf.
Papers rustle like whispers of an old tale,
the chair creaks with each uncertain shift.A faded shop sign outside the window,
letters worn by countless storms,
…
-
Jam Dinding di Angka Dua
Malam merayap masuk tanpa suara,
seperti pesanmu yang kubaca ulang,
huruf-huruf kecil berderet ragu,
jam dinding berhenti di angka dua belas,
menyimpan waktu yang tak bergerak.Kata-kata kita melayang,
dalam ruang yang tak berujung,
menghidupkan kembali harap,
yang dulu kita bisikkan pelan,
sebelum pagi menghapus jejaknya.Aku berbicara pada masa lalu,
tanpa menuntut jawaban pasti,
…
-
Jam Dinding di Ruang Tunggu
Di ruang tunggu ini, waktu terhenti
jam dinding tak bergerak, berhenti
pada angka dua belas, tak bergeming.
Suara sepatu beradu lantai, berbisik
mengisi sunyi yang melingkar di udara.
Ada yang menanti, ada yang bertanya
tanpa suara, hanya tatap mata.Kursi-kursi berderet, dingin dan kaku,
dingin dan kaku, menampung resah
dari mereka yang datang dan pergi.
…
-
Ashtray Full of Ashes
A child's laughter leaks through the walls,
like a confession slipping out,
the bus window frames my view,
as if I'm looking at a world I once knew.An ashtray rests heavy with forgotten smoke,
each flake a memory burnt away,
I watch, detached, from my moving seat,
accepting loss without reason or delay.
-
Cermin Kabur di Pagi Hari
Menyisir rambut di depan cermin kabur,
pagi menyapa dengan suara samar.
Rak sepatu di teras terlihat sunyi,
seperti menunggu cerita yang tak pernah datang.
Aku mencoba tersenyum, tapi retak,
seperti cermin yang tak pernah jujur.Pagi ini, udara dingin merayap,
menyentuh pipi dengan lembutnya angin.
Rambut kusut ini cerita lama,
yang terus kubenahi tanpa akhir.
…
-
Asbak dan Kabel Charger
Dia berbicara dari balik suara,
menggulung kabel charger,
seperti menggulung keraguan,
di antara abu rokok yang jatuh.Asbak penuh, katanya,
asbak penuh, dan hati terasa senyap,
tapi di dalam, suara-suara kecil berbisik,
mencari alasan di balik keheningan.Kabel terbelit di tangan,
seperti mengikat rasa yang tak terucap,
mengisi ruang di antara kita,
dengan pertanyaan yang …
-
Warung Kopi di Pinggir Jalan
di bawah lampu redup, bus malam melaju
aku duduk, mencoba mengingat-ingat
dompet tertinggal, rasa bingung menyelinap
di luar, warung kopi tampak sepi
asap mengepul lembut ke udara malam
berharap ada yang mengerti keraguan inilangit malam, saksi bisu kehilangan kecil
aku menatap cangkir kosong, meraba hati
cinta mungkin bukan jawabnya kali ini
hanya ada perjalanan …
-
Office Corridor Echoes
Footsteps echo against the cold tiles,
a harsh whisper of anticipation,
like water dripping into a waiting pail.Voices murmur beyond closed doors,
soft yet sharp, cutting through silence,
accepting absence without a reason.
-
Gerobak Nasi Goreng di Jalan
Di bawah lampu kuning yang temaram,
gerobak nasi goreng berderit pelan.
Langkah kita mencari arah di malam,
di antara aroma bawang dan kecap.Kita tertawa di tengah jalan salah,
menyimpan cerita di sela kantuk.
Alamat hilang di balik kabut malam,
seperti mimpi yang tak kunjung usai.Aku menatapmu di sela kantuk,
mencari jawaban di balik …
-
Lampu Jalan Berkedip
Di halte, kita berdiri, diam,
menunggu bus yang tak kunjung datang.
Lampu jalan berkedip pelan, seperti,
ingatan yang terpecah, berbisik.Kata-kata tak terucap, tertinggal,
di antara napas dan dingin malam.
Kehilangan tak beralasan ini,
kutemukan damainya dalam sunyi.
