Ada cerita tentang sebuah kota;
Yang tersembunyi di balik kabut tebal;
Dibalut oleh sinar rembulan;
Hanya ada dalam mimpi yang kelam;
Kuberanikan diri bertanya pada semesta;
Apakah itu para pemimpin bijaksana?
Konspirasi di balik tirani yang ada?
Ataukah Sang Pencipta?
Lalu aku bertanya lagi siapa yang lebih bijak;
Apakah para penguasa berjiwa kelam?
Ataukah para cendekia yang terasing?
Ataukah para penipu yang berkuasa?
Sebab hidup mengajarkanku;
Untuk tidak menaruh harapan;
Seperti angin mengajarkanku;
Untuk tidak menggantungkan impian;
“Karena kita hanya ingin meraih;
Apa yang ingin kita miliki;
Karena kita hanya ingin mengagumi;
Pada apa yang memikat hati;”
Kota bayangan, tempatku dilahirkan;
Apakah aku akan kembali padamu di akhir?
Air mataku mengalir untukmu;
Genggam aku lebih erat dalam kesedihanmu;
Dalam sunyi aku membara;
Menumbuhkan benih dendam kepada mereka;
Pada para penguasa kota kita;
Kaum yang angkuh dan durhaka;
Patahkan saja kekuasaan mereka;
Tumpahkan saja ambisi mereka;
Namun apakah kota kita kelak akan damai?
Apakah kita tidak akan sama seperti mereka?
Manusia tidak bermain dadu;
Tidak juga bisa berhenti saling beradu;
Para pahlawan kota bayangan bisa pergi;
Namun semangatnya abadi selamanya.

Leave a Reply