Saat lonceng listrik berhenti berdentang,
ruang tamu menjadi panggung bisu,
meja kayu menyimpan setengah cerita,
di atasnya, lilin bergoyang pelan,
menari dengan bayangan dinding.
Suara-suara berbisik dari sudut ruangan,
mengisi celah gelap dengan pertanyaan,
tapi aku diam, mendengarkan retakan,
dari lilin yang memuntahkan lelehan,
seolah waktu terhenti di tengah malam.
Aroma lilin terbakar menyusup lembut,
mengantar ingatan pada malam-malam lampau,
ketika cerita mengalir tanpa batas,
dan tawa menari di antara bayang-bayang,
sebelum cahaya kembali menelan malam.
Dalam hening, aku hitung detik-detik,
sampai suara mesin kembali berdengung,
lilin padam dengan satu hembusan,
meninggalkan sumbu yang hangus,
dan ruang yang kembali bising.

Leave a Reply