Angin berputar lamban meraba atap kota
bayang-bayang melengkung di bawah lampu jalan
kilap aspal menyerap sisa suara pagi
dan dan dan langkah menunda denyut keputusan
reruntuhan waktu menggigil di sela jemari
sebuah payung hitam terlipat di antara jeda
pada kaca toko, pantulan hari menebal samar
bekas gerimis menyusun alur yang tak selesai
wajah-wajah bertukar diam di balik kaca kendaraan
suara becak samar, menunda kesunyian
dada kota menampung pelarian dan pulang
segala warna tersaring di sudut perhentian
jalan ini bukan milik siapa-siapa, tapi tetap terlewati
retakan pikiran meniti di tepi payung yang basah
gemuruh dan hening berkumpul, saling meniadakan
lampu merah menyala, seolah tak ada urusan baru
masing-masing bayang melepaskan urat lamunan
dan di antara lintasan, waktu melingkar tanpa suara
jika hujan reda, kota menahan napas sendiri
payung hitam meregang di bawah langit kelabu
gelombang bunyi terurai, mencari ruang lain
dan dan dan pejalan menukar arah tanpa alasan
kilau samar di trotoar mencatat sisa isyarat
tanpa nama, langkah terus bergerak ke depan

Leave a Reply