Dari pengeras masjid, doa mengalir pelan,
pelan suara hujan di atap seng,
seng yang berkarat menahan kenangan,
kenangan yang sering kali kita ulang,
ulang tanpa mencoba mengubahnya,
mengubahnya hanya dalam senyum.
Di bawah langit subuh, bintang masih bimbang,
bimbang memudar dalam terang,
terang matahari yang datang perlahan,
perlahan kita berjalan di jalan yang sama,
sama seperti kemarin, tanpa tanya,
tanya yang tersimpan dalam doa.
Di balik senyum, ada rindu yang mengendap,
mengendap di hati, tanpa suara,
suara doa menyadarkan kita,
kita yang terus berharap meski tahu,
tahu cinta bukan tentang memiliki,
memiliki, hanya tentang memberi.

Leave a Reply