Kopi Dingin Sebelum Subuh

Di tikar ruang tamu, aku duduk sendiri,
menyeruput kopi yang sudah dingin,
aroma samar mengisi udara pagi,
menggantung di antara doa-doa senyap,
mengulangi harap tanpa suara.

Di luar, langit masih berwarna kelam,
angin subuh menyelinap pelan,
menyentuh kulit, membawa kenangan,
sedangkan aku mencatat perasaan,
dengan ejaan yang nyaris tergelincir.

Aku menatap cangkir kosong,
dan mengerti, sunyi ini menenangkan,
seperti pelukan tanpa kata,
dalam ruang tanpa batas,
mengisi jiwa yang haus akan damai.

, , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *