Gelas di sudut meja menunggu jatuh
getar langkah di malam mengendap pelan
ada jejak sepatu menulis janji sunyi
kentongan jauh mengirim suara ompong
retakan kaca mencari celah bicara
udara menebal tapi tidak menghakimi
Di bawah lampu bayang-bayang bergeser
namamu tergores di sisi kaca tua
percakapan terpotong oleh nada keras
piring kosong menolak pengakuan basi
tangan-tangan di udara saling melintas
hanya satu suku kata patah di bibir
Jendela terbuka menampung amarah pagi
udara menghitam merembes pada dinding
suara kentongan nyaris patah di ujung lorong
jalan berbatu menahan langkah sumbang
kaca bergetar mengulang bisik lama
tak satupun suara menetap di telinga
Kopi dingin menahan sisa malam
kursi goyah menunggu tumbang perlahan
hari-hari berlari tanpa menoleh peta
retakan baru tumbuh di sela napas
kentongan diam menyimpan jeda luka
sisa gelas tetap berdenting walau sunyi

Leave a Reply