Di antara riuh suara malam,
Kau hadir dengan sinar harapan,
Meski langkahmu terhenti oleh keraguan,
Dan air mata menetes di pipi yang penuh luka,
Jika saat itu kami bersamamu, mampukah menahan derita?,
Dan mungkin akulah yang pertama terjatuh,
Ingin kuhadang gelombang yang merobek jiwa,
Ingin kututup telinga dari teriakan penuh benci,
Lihatlah umatmu kini,
Tak satu pun layak memimpin langkah kami,
Buka jalan itu ya Tuhanku,
Sang penuntun jalan pilihanMu.
Oh Pemimpin,
Kumohon bimbinglah langkahku,
Sekali nanti.
Tetesan di Ember
Menjelang malam, pesan terakhirdi layar, sunyi tak bertepigenteng bocor, tetesjatuh…

Leave a Reply