Surat Asap Sate

Asap menggulung di sela-sela dinding
Bau daging hangus menempel di langit
Kertas yang terlipat, teraba di tangan
Kupegang erat, walau tak ada alamat
Gemerincing sendok, suara kosong di meja
Senja merayap, membawa takdir tak terucap
Angin berbisik, menuntun harapan yang hilang

Bayangan melintas, seolah mengabaikan
Jejak langkah yang tersisa di trotoar
Kedai tua, kursi retak menanti cerita
Wajah-wajah samar, tertutup kabut biru
Semua terdiam, meraba rasa yang pudar
Di luar, dunia berputar tanpa jeda
Satu suara, namun tak ada yang mendengar

Kaca jendela berembun, kata-kata terperangkap
Setiap detik terasa, nyaris menggigit
Temaram lampu, bayang-bayang menari
Ku tulis lagi, tapi tinta mulai pudar
Satu kalimat terlewat, tak terucapkan
Asap melayang, menutup ruang yang hampa
Kembali ku lihat, seakan tak pernah ada

Waktu melongok lewat celah yang rapuh
Satu surat, tak pernah terkirimkan
Dan aku aku, terperangkap dalam ingatan
Dikenang dalam senyap, seolah terabaikan
Tak ada yang menunggu di ujung jalan
Dari ruang ke ruang, terkurung dalam bayang
Sekali lagi, kupersembahkan keheningan

, , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *