Jejak di Pasir

jika aku berkelana lalu datang ombak pasang
pantai-pantai sepi, karang pun terbenam dalam gelombang
hanya suara debur hatimu, Ibu, yang terus menggema
bila aku berkelana
manisnya kue tradisionalmu dan kenangan masa kecilku
di jiwa ada embun pagi meneteskan rasa rindu
karena hutang budi padamu takkan pernah terbayar
Ibu adalah pelabuhan jiwaku
dan engkaulah yang mengantarkanku ke sini
saat bintang berkelip menebar kasih sayang
Ibu menunjuk ke bulan, kemudian ke lautan
aku mengangguk meski tak sepenuhnya paham
bila kasihmu bagaikan langit
sempitnya awan cerah
tempatku bernaung, menghapus debu di hati
tempatku berlayar, menebar jala dan mengikat harapan
ikan-ikan, mutiara dan ombak semua untukku
jika aku menghadapi ujian dan ditanya tentang pahlawan
namamu, Ibu, yang kan kusebut paling awal
karena aku tahu
engkau Ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang badai
Tuhan yang kau tunjukkan telah kukenal
engkaulah itu bidadari yang bersinar di ufuk timur
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis lautan biru
dengan sajakku.

, , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *