Setelah tamu pergi, kursi kembali sunyi,
dalam ruang yang menyisakan jejak langkah,
seperti percakapan yang tak pernah selesai.
Aku menata mereka, satu demi satu,
dengan sisa tawa yang menggantung di udara,
dan aroma deterjen dari laundry kiloan,
menghampiri ingatan yang samar.
Ada bekas gelas di meja,
seperti pertanyaan yang tak terjawab.
Di sudut ruangan, senyum terlipat rapi,
menunggu untuk dibuka kembali,
namun hanya dapat kurasakan,
seperti bayangan yang hampir pudar,
di bawah lampu yang mulai redup.
Kursi-kursi ini saksi bisu,
dari cerita yang kita bagi,
mereka berbisik dalam sunyi,
menggenggam kenangan yang tertinggal.
Aku menghela napas, membiarkan mereka berbicara,
tentang waktu yang telah berlalu,
dan detik yang terus berjalan.
Kini, semua telah tersusun kembali,
seperti hidup yang harus diatur ulang.
Aroma deterjen menenangkan,
menghapus jejak yang tak perlu lagi,
seperti permohonan maaf yang terlambat.
Kursi-kursi menanti tamu berikutnya,
dan yang tinggal hanya kenangan.

Leave a Reply