Menyisir rambut di depan cermin kabur,
pagi menyapa dengan suara samar.
Rak sepatu di teras terlihat sunyi,
seperti menunggu cerita yang tak pernah datang.
Aku mencoba tersenyum, tapi retak,
seperti cermin yang tak pernah jujur.
Pagi ini, udara dingin merayap,
menyentuh pipi dengan lembutnya angin.
Rambut kusut ini cerita lama,
yang terus kubenahi tanpa akhir.
Sepatu-sepatu berbaris rapi,
tak pernah melangkah ke arah yang sama.
Ada tanya yang menggantung di ujung hari,
mengintip dari balik jendela berembun.
Langit tak menjawab, hanya awan kelabu,
menari pelan dengan angin pagi.
Aku menunggu, tapi tak tahu apa,
seperti pagi yang lupa bercerita.
Di cermin kabur ini, aku melihat,
sebuah kehilangan tanpa alasan.
Tak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh,
hanya menerima, seperti angin menyapa.
Sepatu di teras tetap diam,
menyadari bahwa langkah tak harus selalu sampai.

Leave a Reply