Gerimis jatuh, tumpah di atap parkir
membawa suara yang tak pernah kau jawab.
Kursi tunggu di puskesmas sepi,
menjadi saksi setia percakapan diam.
Aku duduk, menunggu kata yang tak datang.
Hanya bunyi hujan menemaniku,
mengisi ruang kosong di hati.
Setiap tetes membawa kenangan,
tentang kata yang tak pernah terucap.
Aku kirimkan pesan lewat rintik,
mencari jawaban dari langit kelabu.
Angin berbisik, mengusap pipi.
Aku merasa, tetapi tak mengaku,
pada perasaan yang tak mau pergi.
Di sudut puskesmas, waktu berlalu,
menggiring detik yang tak beranjak.
Aku menatap langit yang menangis,
mencari arti di balik kabut.
Kursi tua, setia menanti,
seperti aku, yang terus berharap
pada jawaban yang tak kunjung datang.
Hujan reda, menyisakan aroma tanah
yang merekah, mengingatkan aku
bahwa menanti adalah keberanian
untuk mengaku pada diri sendiri.
Aku tak sanggup menghapus rindu,
tapi di sini, aku belajar menerima
kelemahan sebagai kekuatan.

Leave a Reply