Uap di Jendela Bus

Jendela bus berkabut, uap menari pelan,
macet panjang menahan waktu,
di luar sana, pohon-pohon diam,
seperti jam dinding berhenti di angka dua belas.
Wajah-wajah lelah terpantul samar,
dalam kaca yang basah oleh napas,
seluruh dunia terasa menunggu.

Di antara klakson dan keluh kesah,
aku menyeka kaca, melihat ke dalam,
menerima kekurangan sebagai kawan,
menyadari setiap goresan,
adalah bagian dari perjalanan.
Langit senja meredup di kejauhan,
dan aku berani mengakui, aku hanya manusia.

, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *