Di tengah jalan, angin mengusik genggaman, balon melayang
warnanya cerah, bagai harapan yang terlepas dari tangan
terbang menari melewati kabel listrik melintang,
mengalir ke langit, tak peduli pada cerita yang tertinggal,
seperti kenangan yang tak ingin diingat,
namun terus membayang dalam diam yang tak terucap,
sampai akhirnya hilang di cakrawala.
Badai datang, suara gemuruh menyertai langkah-langkah,
namun balon tetap melaju, menembus batas-batas awan,
menggugurkan sisa-sisa keraguan yang terpendam,
sementara kita berdiri, menatap jejaknya yang memudar,
hanya kabel-kabel yang setia menanti,
mengingatkan pada cerita yang tertinggal di ujung jalan,
di mana sunyi berkawan dengan angin.
Dan ketika malam datang, bintang-bintang bersinar,
menggantikan balon yang hilang di langit,
mengajarkan bahwa terkadang kehilangan adalah bagian dari hidup,
dan sunyi yang tersisa, menyelimuti hati dengan kedamaian,
seperti angin yang berbisik pelan di telinga,
menyampaikan bahwa tak ada yang benar-benar hilang,
bahkan dalam sunyi, kita menemukan tenang.

Leave a Reply