Di warung kopi pinggir jalan,
malam menelan bisu,
menghitung langkah yang hilang.
Kau tahu, dompet tertinggal,
kau tahu, bukan sekadar barang,
cinta tak selalu tentang memiliki.
Di warung kopi pinggir jalan,
malam menelan bisu,
menghitung langkah yang hilang.
Kau tahu, dompet tertinggal,
kau tahu, bukan sekadar barang,
cinta tak selalu tentang memiliki.
The bus hums through the night,
a forgotten wallet whispers
between the seats, a pause,
where unspoken words linger,
like a rak sepatu on the porch.
A conversation never had,
frozen in the chill air,
questions that drift, unanswered,
as the bus sways, cradling silence,
a momentary shelter from the cold.
The night stretches on,
with pauses like deep breaths,
a reckoning unfolds quietly,
while the city lights blur past,
a reflection of what was left behind.
In the end, a realization dawns,
the heart finds its own warmth,
not in possessions or words unsaid,
but in the gentle acceptance
that love is not about holding on.
Di kursi tunggu yang kosong,
jejak kaki kecil menghilang,
seperti hujan yang menari,
di antara daun-daun gugur,
tak ada yang kembali.
Langit mengirimkan angin,
mengelus bulu halus yang pergi,
menyisakan bisikan pelan,
menggantung di sudut ruang,
tanpa suara memanggil.
Badai di hati reda,
menyaksikan langkah menjauh,
tanpa harus menggenggam,
membiarkan rindu terbang,
karena cinta bukan milik.
Kipas berputar, rambutku kering
Aku mendengar adzan dari kejauhan
Ragu mengendap di sela helaian
Angin membawa bisik kehilangan
Aku menyaksikan, tanpa suara
Tersesat, namun kini tahu arah
Kerlip lampu stasiun menyambut pagi
Langkah kaki terdengar pelan di kerikil
Kau menoleh sekali, wajahmu samar
Di teras, rak sepatu berderet rapi
Menunggu kosong, seperti ruang hati
Di antara kita, ada jarak yang memudar
Namun tetap tak bisa terhapuskan
Kereta datang, suara nyaring membelah udara
Koper kecil kau genggam erat, berat
Seakan tahu, perjalanan ini bukan akhir
Kau menatapku, dalam diam yang berisik
Ada pesan yang tertinggal di balik mata
Rasa getir menyusup, namun aku pasrah
Melihat punggungmu perlahan menjauh
Fajar mulai menyingsing, langit berwarna lembayung
Rak sepatu masih setia menunggu di teras
Seperti kita, yang tak pernah benar-benar pergi
Ada yang harus dilepaskan, meski berat
Kehilangan ini, bukan akhir dari segalanya
Tidak semua harus dimenangkan dalam cerita
Kadang, melepaskan adalah bentuk kemenangan
Di parkiran yang sepi, kita berdiri
sembari mendengar suara anak-anak
bermain petak umpet, tawa mereka
mengisi celah yang tak terucap.
Melepaskan pelukan, tanpa kata
tanpa kata yang mungkin terucap
menyisakan rasa getir, manis
yang menipu hati yang merindu.
Di tengah kebisuan, ada ketenangan
yang perlahan hadir, seperti bayang
menerima ketidakpastian ini,
seperti suara anak yang hilang.
In the corner of a roadside café,
A jacket lies draped over a chair.
Its owner, long gone, left it behind…
A silent witness to stories untold.
I sip my coffee, alone yet aware,
Listening to the whispers of the wind.
The absence speaks louder, yet…
In the quiet, I find my peace.
in the dim room, i write
your name on the paper's edge,
fingers trembling, ink hesitates
as if afraid of permanence.
kain sarung drapes the chair,
holding whispers of our past,
the plastic creaks under time's weight.
i speak to the wall, careful
words barely escape my lips,
the paper crumples, discarded,
yet it carries a story untold.
the room listens, in silence,
as i find solace in the act—
of letting go, gently, finally.
The message lingers, unsent, in digital air
A pause, like the scent of detergent
From the laundry kiloan below
Empathy folds into the fabric of silence
Words dissolve, unneeded, into the ether
For longing does not demand return
Dalam gelap, ponsel menyala redup
menyusuri wajahmu di antara layar
sekejap kilas kenangan hadir
lalu menghilang, seperti embun pagi.
Tetesan air dari genteng bocor
jatuh berirama ke dalam ember
seperti waktu yang berlalu
tanpa kata, tanpa suara.
Aku bicara pada hampa ini
seolah kau mendengar dari jauh
mengisi ruang dengan diam
yang tak ingin terisi.
Di sela kebosanan yang memanjang
aku menemukan makna tersembunyi
seperti cahaya ponsel di malam
menggenggam sepi, mengerti sendiri.
Di balik jendela, suara langkah mereda,
menyusuri tangga kayu yang berderit pelan.
Hujan di luar menari di atas genting,
seperti irama yang menenangkan hati.
Di halaman, jemuran bergoyang pelan,
mengingatkan pada hari-hari yang berlalu,
tanpa jejak yang tertinggal.
Kau pergi, katamu hanya sementara,
tapi langkah itu terasa jauh.
Di dapur, teko masih menyimpan bekas,
kopi yang kita seduh di pagi yang lalu.
Aku dengar detik jam berdetak,
mengisi ruang yang kau tinggalkan,
dengan bisikan yang hampir pudar.
Di antara dinding dan langit-langit,
ada cerita yang tak terucap,
mengisi kekosongan dengan harapan.
Saat malam menyelimuti kota,
aku tahu, sunyi ini tak selamanya sepi.
Seperti jemuran yang menunggu kering,
sunyi pun bisa menenangkan
Di sudut ruangan, televisi menyala
mengisi celah sunyi dengan suara orang
yang tak kukenal, tapi akrab di telinga.
Asbak penuh abu rokok, saksi bisu
dari malam-malam panjang, meresapi
kehilangan yang tersenyum samar.
Kursi tua menampung tubuh lelah,
mengamati dunia lewat layar kecil.
Seolah hidup ini hanya tontonan
yang tak pernah benar-benar kuikuti.
Suara-suara itu mengalun lembut,
mengisi kekosongan, menenangkan.
Malam terus merangkak, membawa damai
pada jiwa yang terus merindu.
Aku tersenyum pada diri sendiri,
memaafkan luka yang tak perlu dimengerti.
Hanya suara dari televisi yang tersisa,
mengampuni kesendirian dengan lembut.
Alarm berbunyi, mengusik pagi yang dingin,
jari menekan tombol, lalu diam.
Di luar, suara adzan magrib,
menyusup lewat jendela terbuka,
mengajak jiwa mengingat waktu.
Setiap detik berlalu, membawa kenangan,
seperti embun yang menguap perlahan,
meninggalkan jejak samar di kaca,
namun tak pernah benar-benar hilang.
Ada rasa yang tertinggal di sudut hati.
Mata terpejam, terbayang hari-hari lalu,
denting jam berdetak di kejauhan,
seperti bisikan yang tak pernah usai.
Waktu menari tanpa henti,
mengisi ruang kosong dalam diri.
Kembali pada alarm yang terdiam,
menerima setiap detik yang mengalir,
seperti sungai menuju laut dalam,
menyatu dengan arus yang abadi,
membiarkan diri menjadi bagian dari waktu.
Dari kamar sebelah, tawa
menggema, pecah di dinding tipis
seperti riak di atas air
yang menolak diam.
Papan nama toko pudar
bergetar saat angin menyapa
seperti suara keras
dan bisik yang tak bertemu.
Di sela semua bunyi ini
ada ruang kecil untuk menerima
diri yang tak selalu utuh
mengampuni tanpa harus dimengerti.
Whispering to the wall,
the cold coffee stirs memories,
as night holds its breath.
Gentle drips from the roof,
an echo in the dark room,
filling the bucket's silence.
We converse in shadows,
searching for warmth in corners,
realizing love is not the answer.
Di bus malam yang melaju, aku duduk tenang.
Lalu menyadari dompet tertinggal, tertinggal di kursi.
Suara mesin berderu, mengulang kisah yang sama.
Sendal jepit di dekat pintu, menanti langkah pulang.
Di luar jendela, bintang-bintang berkelip samar.
Ada jeda… dalam pikiran yang beriak.
Mengingat janji yang pernah terucap.
Sendal jepit itu, setia menanti.
Aku mengulang, mengulang langkah yang sama.
Malam menyelimuti, dingin menyusup perlahan.
Mesin terus berdengung, seperti mengejar waktu.
Aku terdiam… dalam kebisingan yang akrab.
Ada rindu yang tak terucap, tertinggal di antara kursi.
Janji-janji yang pernah terucap, kini samar.
Di antara deru mesin, suara hati berbisik.
Sendal jepit itu, tak pernah pergi jauh.
Langkah-langkah yang sama, mengulang cerita.
Malam semakin dalam, membalut segala rasa.
Di luar sana, bintang-bintang masih setia.
Ada jeda… di antara detik yang berlalu.
Mengingat janji yang pernah terucap, kini pudar.
Sendal jepit di dekat pintu, tetap menanti.
Aku mengulang, mengulang langkah yang tak berubah.
Malam menutup, seperti selimut yang akrab.
Mesin terus berputar, tidak berhenti.
Aku terdiam… dalam kebisingan yang menenangkan.
Ada kenangan yang tertinggal, di antara kursi.
Ternyata, tidak semua janji harus ditepati.
beneath the bed, dust whispers secrets
a small bracelet, forgotten, glimmers in the dim
motorcycle shadows dance across the window
while tired eyes search for meaning
the weight of days presses down, unyielding
yet empathy finds its way, weaving through
each link of metal, a story untold
as the heart beats, weary but resolute
in the quiet, acceptance slowly unfurls
like a gentle sigh, releasing burdens past
the bracelet remains, a relic of what was
embracing the truth that only memories last
A child's laughter leaks through the walls,
like a confession slipping out,
the bus window frames my view,
as if I'm looking at a world I once knew.
An ashtray rests heavy with forgotten smoke,
each flake a memory burnt away,
I watch, detached, from my moving seat,
accepting loss without reason or delay.
Aku melihat jaket itu, tergantung diam
di kursi plastik dengan kain sarung,
seolah menanti pemiliknya pulang,
menyimpan kehangatan yang tak berujar.
Aku menyentuhnya, merasakan dingin
yang menembus kenangan, mengingat
satu per satu hari yang berlalu,
dalam sunyi yang tak memanggil.
Aku menyimpan harapan, meski tahu
tak ada langkah yang kembali,
tak ada suara yang menjemput,
hanya jaket yang tetap setia.
Aku menerima akhirnya, perlahan
bahwa yang tinggal hanya kenangan,
seperti kain sarung di kursi plastik
yang tak lagi menunggu siapa pun.
Di tengah jalan, angin mengusik genggaman, balon melayang
warnanya cerah, bagai harapan yang terlepas dari tangan
terbang menari melewati kabel listrik melintang,
mengalir ke langit, tak peduli pada cerita yang tertinggal,
seperti kenangan yang tak ingin diingat,
namun terus membayang dalam diam yang tak terucap,
sampai akhirnya hilang di cakrawala.
Badai datang, suara gemuruh menyertai langkah-langkah,
namun balon tetap melaju, menembus batas-batas awan,
menggugurkan sisa-sisa keraguan yang terpendam,
sementara kita berdiri, menatap jejaknya yang memudar,
hanya kabel-kabel yang setia menanti,
mengingatkan pada cerita yang tertinggal di ujung jalan,
di mana sunyi berkawan dengan angin.
Dan ketika malam datang, bintang-bintang bersinar,
menggantikan balon yang hilang di langit,
mengajarkan bahwa terkadang kehilangan adalah bagian dari hidup,
dan sunyi yang tersisa, menyelimuti hati dengan kedamaian,
seperti angin yang berbisik pelan di telinga,
menyampaikan bahwa tak ada yang benar-benar hilang,
bahkan dalam sunyi, kita menemukan tenang.
Foggy glass. Smudged prints.
Traffic. Stuck. Unmoving.
Eyes glance at faded signs.
Breath held. Tension mounts.
Worries, hidden, beneath calm.
Repeat. Repeat. Thoughts circle.
Hands wipe, clear, again.
Outside, distant, unreachable.
Signs tell stories, forgotten.
Silence, a friend, in chaos.
Hope waits, quietly, inside.
Let go, let go, softly.
Shadows fade, unseen, gone.
Acceptance, without reason, finds me.
In stillness, I breathe again.
