Aku melihat jaket itu, tergantung diam
di kursi plastik dengan kain sarung,
seolah menanti pemiliknya pulang,
menyimpan kehangatan yang tak berujar.
Aku menyentuhnya, merasakan dingin
yang menembus kenangan, mengingat
satu per satu hari yang berlalu,
dalam sunyi yang tak memanggil.
Aku menyimpan harapan, meski tahu
tak ada langkah yang kembali,
tak ada suara yang menjemput,
hanya jaket yang tetap setia.
Aku menerima akhirnya, perlahan
bahwa yang tinggal hanya kenangan,
seperti kain sarung di kursi plastik
yang tak lagi menunggu siapa pun.

Leave a Reply