Alarm berbunyi, mengusik pagi yang dingin,
jari menekan tombol, lalu diam.
Di luar, suara adzan magrib,
menyusup lewat jendela terbuka,
mengajak jiwa mengingat waktu.
Setiap detik berlalu, membawa kenangan,
seperti embun yang menguap perlahan,
meninggalkan jejak samar di kaca,
namun tak pernah benar-benar hilang.
Ada rasa yang tertinggal di sudut hati.
Mata terpejam, terbayang hari-hari lalu,
denting jam berdetak di kejauhan,
seperti bisikan yang tak pernah usai.
Waktu menari tanpa henti,
mengisi ruang kosong dalam diri.
Kembali pada alarm yang terdiam,
menerima setiap detik yang mengalir,
seperti sungai menuju laut dalam,
menyatu dengan arus yang abadi,
membiarkan diri menjadi bagian dari waktu.

Leave a Reply