Di sudut jalan yang salah
kau berdiri, diam
menggenggam peta yang pudar
seperti gelas bening berembun
di meja usang kafe kecil
di mana kita menunggu
alamat yang tak pernah ada
Langkah kita terhenti
di depan ruko kosong,
hanya suara sepeda motor
melintasi pagi yang lambat
menyisakan debu di udara
kau menghela napas
tanpa kata, tanpa arah
Kertas peta itu
terlipat di saku,
tak lagi kita buka
seperti percakapan
yang terhenti di antara
dua cangkir kopi
yang sudah dingin
Di sela-sela embun
pada gelas bening
aku melihatmu
setengah tersenyum
menatap ke luar jendela
membiarkan pagi berlalu
tanpa satu pun jejak

Leave a Reply