Dia berbicara dari balik suara,
menggulung kabel charger,
seperti menggulung keraguan,
di antara abu rokok yang jatuh.
Asbak penuh, katanya,
asbak penuh, dan hati terasa senyap,
tapi di dalam, suara-suara kecil berbisik,
mencari alasan di balik keheningan.
Kabel terbelit di tangan,
seperti mengikat rasa yang tak terucap,
mengisi ruang di antara kita,
dengan pertanyaan yang tak terjawab.
Kini, dia berhenti menggulung,
meletakkan kabel dengan tenang,
menerima kehilangan tanpa alasan,
seperti asbak yang tak lagi diisi.

Leave a Reply