Hangatnya menantimu seperti teh melati,
yang tak pernah tahu kapan ia akan mekar,
seperti dirimu yang tak kunjung bisa kulupakan,
tapi hanya menyisakan rasa pahit tanpa manisnya.
Senyummu bagaikan gula yang larut,
menyembunyikan kepahitan dari teh melati,
tapi menipu rasa,
keaslian cinta yang kau janjikan.
Aku ingin dirimu seperti teh hijau,
yang pasti tahu kapan ia akan bersinar,
dengan suhu yang sejuk namun pasti,
matang dan menawan.
Aku sang peracik yang akan menyajikan secangkir teh,
peneman jiwa kita berdua,
bercerita tentang keselarasan,
menjadi secangkir teh peneman hati yang sepi.
Di Ujung Senja
Senyap sore menanti mentari yang redup … Kini semakin tenggelam…

Leave a Reply