Pagi dan Pintu Terkunci

Pintu berderit pelan, pagi terdiam,
Langit masih pucat, seolah enggan bicara,
Jendela menatap kosong, menanti motor lewat,
Udara dingin menyusup, tanpa undangan,
Langkah kaki di lantai, meraba sunyi,
Kunci berputar, suara kecil yang tegas,
Menyimpan cerita dalam ruang tertutup.

Dinding-dinding berbisik, tanpa suara,
Daun-daun bergetar, mengingat angin,
Ada rasa takut, mengintip dari sudut,
Seperti pagi yang enggan memeluk,
Rasa rindu yang pelan, merayap,
Mengetuk di dalam dada, tak terjawab,
Seolah dunia menunggu, tanpa desakan.

Mentari tersipu di balik awan,
Menyembunyikan hangat dalam kabut,
Jalanan masih lengang, menanti jejak,
Sepi terasa akrab, mengisi ruang,
Langit mengirim pesan, samar,
Di antara sela waktu yang terhenti,
Ada harap tanpa kata, mengiringi.

Motor melintas, bayangannya tersisa,
Seperti kenangan yang enggan pergi,
Pintu terkunci, tapi hati terbuka,
Menyimak pagi dalam diam,
Menyadari bahwa perasaan,
Tak harus tuntas, atau diucap,
Cukup hadir dalam setiap detik yang berlalu.

, , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *