Pintu Kamar dan Gerobak Nasi

Di antara suara gerobak nasi goreng
yang seret di jalan sempit,
aku menunggu ketukan,
menyusun ingatan yang retak,
seperti serpihan malam
yang tak kunjung utuh.

Lalu, di bawah lampu kos yang redup,
aku berbicara pada dinding bisu,
memanggil sosok yang tak tampak,
menyebut nama yang samar,
berharap suara langkah
mengisi kekosongan ini.

Di luar, suara sendok dan piring
beradu dalam harmoni sederhana,
sementara aku, terjebak
dalam jeda panjang,
menghitung detik yang berlalu
tanpa tanda kehadiranmu.

Dan akhirnya, aku sadar,
bahwa menunggu adalah keberanian,
mengakui bahwa aku lemah,
tapi tetap berharap,
seperti gerobak nasi goreng
yang setia mengisi malam.

, , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *