Di meja kecil, kopi menunggu
dingin, seperti pagi yang malas
aroma deterjen dari laundry kiloan
menggantung di udara, menyapa hidung
mata berat, tapi pikiran berkelana
menyusuri jalan kenangan yang samar
Seruput pertama, getir dan hambar
seperti cerita yang tak tersampaikan
raut lelah di cermin, tak berbohong
tapi ada ketenangan dalam rutinitas
satu tarikan napas, satu tegukan lagi
mengisi kekosongan sebelum hari dimulai
Di luar, langit beranjak dari hitam
menunggu semburat cahaya pertama
dalam hati, riak kecil tak berhenti
mengalun pelan, menyentuh relung terdalam
dengan senyum tipis, mengingat luka lama
yang tak pernah benar-benar pergi
Tertawa kecil, menertawakan diri sendiri
menangkap ironi pagi yang tenang
kopi ini, saksi bisu perjalanan panjang
meski dingin, tetap dirindukan
setiap teguknya, mengingatkan
bahwa tak semua luka harus sembuh

Leave a Reply