di sudut kamar, jaketmu tergantung
seolah menanti tubuh yang tak pernah datang
asbak penuh abu rokok, saksi bisu
setiap helai asap membawa rasa
marah yang terpendam dalam diam
menyala seperti bara yang padam
aku berbicara pada ruang kosong
menggenggam sisa-sisa percakapan kita
setiap kata terasa berat
seperti batu yang mengikat
di balik senyum, ada luka
menanti waktu untuk sirna
jaketmu masih menyimpan aroma
campur aduk dengan debu dan waktu
aku menahan diri, tak ingin membuang
kenangan yang terjalin erat
tapi ada rasa ingin menjerit
pada dunia yang terus berputar
akhirnya aku mengerti, yang tinggal
hanyalah jejak samar dalam ingatan
seperti abu di asbak yang penuh
perlahan mengendap, tenggelam
tak ada lagi yang bisa kupegang
selain kenangan yang takkan kembali

Leave a Reply