Di bawah atap seng, hujan berbisik
Mengetuk-ngetuk, mengisi ruang sunyi
Seperti pesanmu yang tak kunjung datang
Aku menatap layar, berharap ada jawaban
Tapi hanya ada suara hujan, menari di atap
Mengingatkanku pada tatapanmu yang dulu
Saat kita saling melihat, saling merasa
Rintik-rintik jatuh, menggantikan kata-kata
Nada berubah saat citra berganti
Seolah menegur, mengingatkan kembali
Bahwa tidak semua harus terucap
Ada yang cukup dirasa, meski samar
Seperti pesan yang hilang, tenggelam
Dalam derasnya hujan dan waktu
Aku memaafkan, meski tak sepenuhnya melupakan
Membiarkan hujan mencuci rasa kecewa
Dan menata ulang harapan yang terserak
Dalam tatapan yang pernah kita bagi
Kini hanya ada atap seng dan suara
Yang mengingatkan bahwa ada yang tak kembali
Namun tetap bisa diterima
Hujan berhenti, menyisakan genangan
Seperti kenangan yang tak sepenuhnya hilang
Aku menatap ke langit, mencari jawab
Tapi yang kutemukan hanya awan berarak
Menerima bahwa tak semua harus dimenangkan
Ada kalanya kita harus melepaskan
Dan membiarkan yang hilang tetap menjadi kenangan

Leave a Reply