kertas putih kusut di meja,
tulisan nama yang pudar,
seperti ingatan yang berlalu,
tak lagi menuntut tempat,
suara adzan magrib dari kejauhan,
mengiringi detik yang perlahan.
bercerita kepada kertas,
tentang kenangan yang terpotong,
huruf-huruf kecil berbisik,
berharap dibaca sekali lagi,
tapi tangan ini memilih,
membuangnya ke dalam angin.
di sudut hati yang sunyi,
ada rindu yang tak berjejak,
mengalir bersama waktu,
tanpa perlu kembali,
seperti suara adzan yang pulang,
mengisi ruang tanpa tanya.
nama di kertas itu,
tak lagi menuntut arti,
sekadar jejak yang singgah,
di sela kehidupan yang terus,
berputar dalam irama sendiri,
tanpa harus kembali menunggu.

Leave a Reply